<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>www.mhasbi.blogspot.com</title>
	<atom:link href="http://fauzanrizki.blog.friendster.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com</link>
	<description>Blog Ini Berisi koleksi LINK bagus, &#60;br&#62; Materi hack dan crack serta Kitab Rujukan Islam yang anda bisa mendownlaodnya gratis.</description>
	<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 01:54:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap dan uptudate</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/11/koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap-dan-uptudate/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/11/koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap-dan-uptudate/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 01:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[
Kini sudah ada web yang berisi koleksi tv indonesia Lengkap secara
online, dimana itu ? temen-temen bisa ngakses tv di
http://www.fosmagati.com ada beberapa channel yang disediakan disana,
antara lain TV One, aljazeera, tvri, rcti, sctv, transtv, trans7, tpi,
metro tv, jakTV, dan siaran televisi lainnya.
Selain itu anda bisa ngobrol plus request TV di website, kalau ada
yang menyediakan servernya Insya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry">
<p>Kini sudah ada web yang berisi koleksi tv indonesia Lengkap secara<br />
online, dimana itu ? temen-temen bisa ngakses tv di<br />
http://www.fosmagati.com ada beberapa channel yang disediakan disana,<br />
antara lain TV One, aljazeera, tvri, rcti, sctv, transtv, trans7, tpi,<br />
metro tv, jakTV, dan siaran televisi lainnya.</p>
<p>Selain itu anda bisa ngobrol plus request TV di website, kalau ada<br />
yang menyediakan servernya Insya Allah nanti saya bisa masukan ke web.</p>
<p>Website ini tidak bersifat bisnis, murni ingin memberikan hal baik<br />
kepada kawan-kawan semua dan hanya bersifat kolektor saja agar<br />
memudahkan para user yang kangen atau hanya sekedar ingin menikmati TV<br />
Indonesia secara online.</p>
<p>http://www.fosmagati.com buah KARYA ISENG WARGA CIREBON DI MESIR. Daan<br />
tunggu koleksi TV-TV bagus lainnya…. ikuti terus perkembanganya.</p>
<p>Akhir Kata:<br />
Khairunnas Anfauhum Linnas…. SEMOGA BISA BERMANFAAT DAN BERNILAI<br />
IBADAH.</p>
<p>M Hasbi, Lc</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/11/koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap-dan-uptudate/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KOLEKSI TV INDONESIA ONLINE TERLENGKAP + UPTUDATE</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/11/koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap-uptudate/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/11/koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap-uptudate/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 01:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Kini sudah ada web yang berisi koleksi tv indonesia Lengkap secara
online, dimana itu ? temen-temen bisa ngakses tv di
http://www.fosmagat i.com ada beberapa channel yang disediakan disana,
antara lain TV One, aljazeera, tvri, rcti, sctv, transtv, trans7, tpi,
metro tv, jakTV, dan siaran televisi lainnya.
Selain itu anda bisa ngobrol plus request TV di website, kalau ada
yang menyediakan servernya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kini sudah ada web yang berisi koleksi tv indonesia Lengkap secara<br />
online, dimana itu ? temen-temen bisa ngakses tv di<br />
http://www.fosmagat i.com ada beberapa channel yang disediakan disana,<br />
antara lain TV One, aljazeera, tvri, rcti, sctv, transtv, trans7, tpi,<br />
metro tv, jakTV, dan siaran televisi lainnya.</p>
<p>Selain itu anda bisa ngobrol plus request TV di website, kalau ada<br />
yang menyediakan servernya Insya Allah nanti saya bisa masukan ke web.</p>
<p>Website ini tidak bersifat bisnis, murni ingin memberikan hal baik<br />
kepada kawan-kawan semua dan hanya bersifat kolektor saja agar<br />
memudahkan para user yang kangen atau hanya sekedar ingin menikmati TV<br />
Indonesia secara online.</p>
<p>http://www.fosmagat i.com buah KARYA ISENG WARGA CIREBON DI MESIR. Daan<br />
tunggu koleksi TV-TV bagus lainnya&#8230;. ikuti terus perkembanganya.</p>
<p>Akhir Kata:<br />
Khairunnas Anfauhum Linnas&#8230;. SEMOGA BISA BERMANFAAT DAN BERNILAI<br />
IBADAH.</p>
<p>M Hasbi, Lc</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/11/koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap-uptudate/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ZAHRAH TAFASIR KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD ABU ZAHRA</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/09/zahrah-tafasir-karangan-syaikh-muhammad-abu-zahra/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/09/zahrah-tafasir-karangan-syaikh-muhammad-abu-zahra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 03:21:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[


ZAHRAH TAFASIR KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD ABU ZAHRA





Dicetak Oleh Daarul Annasyar
Jumlah Jilid: 10 Jilid
Kitab tafsir ini pertama kali dicetak oleh Maktabah Waqfiyah kemudian dipindah keseluruhannya dengan tujuan mentashih segala ayat-ayat quran yang salah cetak sebelumnya ( Comment by. M Hasbi)
Downlaod Disini


Photo. Syaikh Muhammad Abu Zahra



]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="4" cellpadding="4" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td class="judulpost">ZAHRAH TAFASIR KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD ABU ZAHRA</td>
</tr>
<tr>
<td class="tanggalpost"></td>
</tr>
<tr>
<td class="isipost">Dicetak Oleh Daarul Annasyar<br />
Jumlah Jilid: 10 Jilid</p>
<p>Kitab tafsir ini pertama kali dicetak oleh Maktabah Waqfiyah kemudian dipindah keseluruhannya dengan tujuan mentashih segala ayat-ayat quran yang salah cetak sebelumnya ( Comment by. M Hasbi)</p>
<p><strong><strong><a href="http://www.almeshkat.net/books/archive/books/zhrt%20altfaser.rar"><span style="font-size: 85%"><strong>Downlaod Disini</strong></span></a></strong></strong></p>
<p><a href="http://www.islamonline.net/Arabic/history/1422/01/images/pic20b.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt;float: left;width: 152px;height: 159px" src="http://www.islamonline.net/Arabic/history/1422/01/images/pic20b.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p><span style="font-style: italic;font-size: 78%"><span style="font-weight: bold"><br />
Photo.</span> Syaikh Muhammad Abu Zahra</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/09/zahrah-tafasir-karangan-syaikh-muhammad-abu-zahra/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap Adil Kepada FPI</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/sikap-adil-kepada-fpi/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/sikap-adil-kepada-fpi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 13:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/sikap-adil-kepada-fpi/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 align="left">Oleh Abu Muhammad Waskito *)</h4>
<p align="left" class="MsoNormal"><img width="110" hspace="5" height="99" align="left" alt=" " src="http://i256.photobucket.com/albums/hh166/rumpeng/habib.jpg" /> Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh sebagian aktivis Front<br /> Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang menamakan diri<br /> sebagai aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan<br /> (AKKBB).</p>
<div align="justify">TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para aktivis FPI terhadap<br /> massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung Ahmadiyyah. Disana ada<br /> aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas sound system,<br /> kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat prihatin melihatnya.</div>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p> Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon. Melalui jubir<br /> kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi anarkhis aktifis FPI<br /> di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung, disiarkan TV-TV, bahwa<br /> dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku kekerasan ditindak<br /> secara hukum. SBY juga menekankan, &quot;Negara kita Negara hukum.&quot; Gayung<br /> bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku kekerasan di Monas. </p>
<p> MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas itu (Republika, 2<br /> Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyyah, setelah<br /> pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din tidak menuntut FPI<br /> dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika Pemerintah ingin<br /> membubarkan FPI (www.jawapos. co.id, 2 Juni 2008). Arbi Sanit, pakar<br /> politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan karena mengancam<br /> kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP Anshor, Malik<br /> Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, kalau pemerintah tidak tegas.<br /> Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan sempat terjadi<br /> keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh pemuda-pemuda tersebut<br /> (berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008).</p>
<p> Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan. Sebelumnya juga <br /> bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan aksi-aksi nahi<br /> munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah kita menghukum FPI<br /> sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan)pasca kasus<br /> kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani melihat masalahnya<br /> secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi. </p>
<p> Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan dalam kasus di<br /> atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara cermat, sehingga kita<br /> bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau tidak? </p>
<p> Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Winarko,<br /> beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka mulanya hanya berencana<br /> berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB beraksi sampai ke<br /> Monas. &quot;Ternyata, mereka menuju Monas juga,&quot; kata Kombes Heru Winarko<br /> (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, &quot;Bentrokan Akibat Pemerintah<br /> Lamban,&quot; hal. 1). </p>
<p> Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar hukum. Mereka<br /> melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak kepolisian. Jika mereka<br /> beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut tidak perlu<br /> terjadi. </p>
<p> Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di GlobalTV siang hari,<br /> disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di Monas tersebut. Pada<br /> mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah satu lokasi Monas<br /> sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa TOA. Mereka kadang<br /> bertakbir dan juga membaca kalimat &quot;Laa ilaha illa Allah&quot;. </p>
<p> Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang siapapun. Aksi<br /> mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai timbul masalah ketika<br /> AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system kuat, tidak jauh dari<br /> lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung Ahmadiyyah, di sisi<br /> lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI. Anda bisa<br /> bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat<br /> telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin<br /> perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi<br /> oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak awal untuk berbuat<br /> kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib. </p>
<p> Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, &quot;AKKBB harus mawas diri,<br /> menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU, Muhammadiyyah, sampai<br /> ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga dengan FPI, tidak<br /> usah terprovokasi, ini bahaya benar.&quot; (Republika, 3 Juni 2008). </p>
<p> Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana terlihat dengan<br /> jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras menertibkan para<br /> aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan, tendangan, menenangkan<br /> aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian pemuda aktivis FPI<br /> mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak mampu mencegah<br /> secara keseluruhan. </p>
<p> Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau<br /> perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa<br /> disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah<br /> terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya mendamaikan, saya yakin akan<br /> jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam kasus tersebut,<br /> menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu mencegah aksi-aksi<br /> individu yang terlanjur terjadi. </p>
<p> Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita harus jujur<br /> mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha mencegah kekerasan<br /> itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak kepolisian sering<br /> berdalih, &quot;Petugas polisi kan manusia juga.&quot; Polisi bisa khilaf,<br /> melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu pula dengan kasus<br /> para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada instruksi kekerasan,<br /> tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi. </p>
<p> Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas ditindak secara hukum,<br /> tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu berbeda konteksnya.<br /> Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh -sebut saja- oknum aktivis<br /> FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk<br /> menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus kekerasan oleh<br /> oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus<br /> kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk<br /> membubarkan lembaga Polri. </p>
<p> Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian warga Muhammadiyyah<br /> -misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi &quot;bola liar&quot; untuk<br /> membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan oleh oknum tetap<br /> dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi. </p>
<p> Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari lima tersangka kasus<br /> di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan sebagai lembaga FPI<br /> secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah individual case, bukan<br /> organization case. Kalau setiap kasus individu bisa menjadi dalih untuk<br /> membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji SBY yang katanya<br /> tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa dijadikan dalih<br /> untuk membubarkan kabinetnya. </p>
<p> Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme di Monas atas nama<br /> &quot;negara hukum&quot;, dia telah menggunakan dalil yang benar. Tetapi<br /> seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah. Bukankah penanganan<br /> kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur hukum? Disana ada<br /> Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi Depertemen Agama RI,<br /> rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi kepala-kepala daerah<br /> tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat &quot;Negara hukum&quot;? Mengapa<br /> SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah hukum berlaku bagi<br /> FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi tentang kesesatan<br /> Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan Buyung Nasution,<br /> selaku anggota Watimpres, apakah hal itu juga memenuhi keadilan hukum?<br /> Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Watimpres bisa<br /> mengintervensi kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam AKKBB<br /> yang melakukan aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah<br /> disepakati sesat oleh Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi<br /> di bawah Kabinet SBY?</p>
<p> Jadi kesan yang muncul, istilah &quot;negara hukum&quot; itu hanya dipakai untuk<br /> mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok lain, konsep ketegasan<br /> hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan Buyung Nasution, dia<br /> bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas Islam dalam kasus<br /> Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai &quot;profesional hukum&quot; ketika<br /> membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya hanya sekedar<br /> &quot;kuda tunggangan&quot; belaka. </p>
<p> Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual, emosi, mengutuk,<br /> dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli peserta aksi AKKBB.<br /> &quot;Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris sembilu,&quot; begitulah<br /> kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati kekerasan ini.</p>
<p> Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam ketika Ahmadiyyah<br /> terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita terketuk hati ketika<br /> ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia mendakwakan diri<br /> sebagai Al Masih, sebagai Al Mahdi, dan mengajarkan kitab At Tadzkirah<br /> sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika ajaran-ajaran Islam<br /> dilecehkan oleh orang-orang itu? </p>
<p> Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, atau sedih, apalah<br /> artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan yang menimpa<br /> Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan Islam? Dan<br /> sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu, demikian mudahnya<br /> dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah).<br /> Sebagai seorang Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan<br /> Rasulullah dan Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban, sehingga<br /> atas hidayah Allah saat ini kita menjadi Muslim? </p>
<p> Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan oleh kaum<br /> Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah &#8216;alaih. Bukan<br /> berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa dibenarkan, sebab<br /> bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada tindakan rakyatnya<br /> sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan kepada kaum Ahmadiy<br /> membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mulai<br /> mendakwahkan Islam di masa lalu. </p>
<p> Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun pelakunya. Tetapi<br /> dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat secara jernih dan<br /> adil. Jangan karena sentimen, atau sudah &quot;kadung kesal&quot; dengan FPI, lalu<br /> kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta&#8217;ala tetap memerintahkan agar kita<br /> selalu berbuat adil. &quot;Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum,<br /> membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah, sebab adil itu<br /> lebih dekat kepada taqwa.&quot; (Al Maa&#8217;idah: 8).<br />Wallahu a&#8217;lam bisshawaab. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/sikap-adil-kepada-fpi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/membongkar-jaringan-akkbb-bag1/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/membongkar-jaringan-akkbb-bag1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 13:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Weblogs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/membongkar-jaringan-akkbb-bag1/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">&nbsp;
<p class="MsoNormal"><img width="118" hspace="5" height="130" align="left" alt=" " src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/star-david.jpg" />Nama<br />
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)<br />
menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari<br />
ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali<br />
diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah,<br />
sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab<br />
suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan<br />
Rasulullah Muhammad SAW.</p>
</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Jika menilik perjalanan historis<br />
dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa<br />
ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam,<br />
pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka<br />
terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Ketika<br />
Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar<br />
umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan<br />
mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali<br />
perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri<br />
dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan<br />
sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya<br />
mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Bagaimana<br />
dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga<br />
swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk<br />
kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:</p>
<div align="justify">
<ul>
<li class="MsoNormal">Indonesian&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Conference on Religion and Peace (ICRP)</li>
<li class="MsoNormal">National&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Integration Movement (IIM)</li>
<li class="MsoNormal">The Wahid Institute</li>
<li class="MsoNormal">Kontras</li>
<li class="MsoNormal">LBH Jakarta</li>
<li class="MsoNormal">Jaingan Islam&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Kampus (JIK)</li>
<li class="MsoNormal">Jaringan Islam&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Liberal (JIL)</li>
<li class="MsoNormal">Lembaga Studi&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Agama dan Filsafat (LSAF)</li>
<li class="MsoNormal">Generasi Muda&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Antar Iman (GMAI)</li>
<li class="MsoNormal">Institut&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Dian/Interfidei</li>
<li class="MsoNormal">Masyarakat Dialog&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Antar Agama</li>
<li class="MsoNormal">Komunitas&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Jatimulya</li>
<li class="MsoNormal">eLSAM</li>
<li class="MsoNormal">Lakpesdam NU</li>
<li class="MsoNormal">YLBHI</li>
<li class="MsoNormal">Aliansi Nasional&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Bhineka Tunggal Ika</li>
<li class="MsoNormal">Lembaga Kajian&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Agama dan Jender</li>
<li class="MsoNormal">Pusaka Padang</li>
<li class="MsoNormal">Yayasan Tunas&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Muda Indonesia</li>
<li class="MsoNormal">Konferensi&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Waligereja Indonesia&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;(KWI)</li>
<li class="MsoNormal">Crisis Center GKI</li>
<li class="MsoNormal">Persekutuan&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Gereja-gereeja Indonesia (PGI)</li>
<li class="MsoNormal">Forum Mahasiswa&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Ciputat (Formaci)</li>
<li class="MsoNormal">Jemaat Ahmadiyah Indonesia&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;(JAI)</li>
<li class="MsoNormal">Gerakan Ahmadiyah&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Indonesia</li>
<li class="MsoNormal">Tim Pembela&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Kebebasan Beragama</li>
<li class="MsoNormal">El Ai Em Ambon</li>
<li class="MsoNormal">Fatayat NU</li>
<li class="MsoNormal">Yayasan Ahimsa&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;(YA) Jakarta</li>
<li class="MsoNormal">Gedong Gandhi&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Ashram (GGA) Bali</li>
<li class="MsoNormal">Koalisi Perempuan&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Indonesia</li>
<li class="MsoNormal">Dinamika Edukasi&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Dasar (DED) Yogya</li>
<li class="MsoNormal">Forum&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta</li>
<li class="MsoNormal">Forum Suara Hati&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo</li>
<li class="MsoNormal">SHEEP Yogyakarta Indonesia</li>
<li class="MsoNormal">Forum Lintas&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Agama Jawa Timur Surabaya</li>
<li class="MsoNormal">Lembaga Kajian&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Agama dan Sosial Surabaya</li>
<li class="MsoNormal">LSM Adriani Poso</li>
<li class="MsoNormal">PRKP Poso</li>
<li class="MsoNormal">Komunitas Gereja&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Damai</li>
<li class="MsoNormal">Komunitas Gereja&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Sukapura</li>
<li class="MsoNormal">GAKTANA</li>
<li class="MsoNormal">Wahana Kebangsaan</li>
<li class="MsoNormal">Yayasan Tifa</li>
<li class="MsoNormal">Komunitas&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Penghayat</li>
<li class="MsoNormal">Forum Mahasiswa&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Syariahse-Indonesia NTB</li>
<li class="MsoNormal">Relawan untuk&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok</li>
<li class="MsoNormal">Forum Komunikasi&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Lintas Agama Gorontalo</li>
<li class="MsoNormal">Crisis Center SAG&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Manado</li>
<li class="MsoNormal">LK3 Banjarmasin</li>
<li class="MsoNormal">Forum Dialog Antar&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Makassar</li>
<li class="MsoNormal">Jaringan Antar&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Iman se-Sulawesi</li>
<li class="MsoNormal">Forum Dialog&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin</li>
<li class="MsoNormal">PERCIK Salatiga</li>
<li class="MsoNormal">Sumatera Cultural&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Institut Medan</li>
<li class="MsoNormal">Muslim Institut&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Medan</li>
<li class="MsoNormal">PUSHAM UII Yogyakarta</li>
<li class="MsoNormal">Swabine Yasmine&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Flores-Ende</li>
<li class="MsoNormal">Komunitas&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Peradaban Aceh</li>
<li class="MsoNormal">Yayasan Jurnal&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Perempuan</li>
<li class="MsoNormal">AJI Damai&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Yogyakarta</li>
<li class="MsoNormal">Ashram Gandhi&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Puri Bali</li>
<li class="MsoNormal">Gerakan Nurani&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Ibu</li>
<li class="MsoNormal">Rumah Indonesia</li>
</ul></div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Menurut<br />
data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi,<br />
kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi<br />
kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat<br />
insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak.<br />
Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk<br />
menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana<br />
keras yang tersedia.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Namun<br />
ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di<br />
akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan<br />
inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Keseluruhan<br />
organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata,<br />
yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme<br />
yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM,<br />
Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau <em>Das Sollen</em> kata orang Jerman.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Namun<br />
dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya.<br />
Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti<br />
demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar<br />
HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian<br />
menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan<br />
sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa<br />
menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Bukan<br />
kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang<br />
merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional.<br />
Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada<br />
Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad<br />
yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang<br />
kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (<em>source: indolink.com</em>),<br />
dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah<br />
mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan<br />
orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Mereka<br />
ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti<br />
kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd<br />
sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan<br />
menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti<br />
di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Jelas,<br />
bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah.<br />
Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya<br />
pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.</p>
<div align="justify">&nbsp;</div>
<p align="justify" class="MsoNormal">Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti <em>libforall.com</em>, <em>Islamlib.com</em>. dan lainnya.</p>
<div align="justify">
Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang<br />
sebenarnya menyadari &#8216;The Hidden Agenda&#8217; di balik AKKBB, karena agenda<br />
besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini,<br />
sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan<br />
hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan<br />
pemahaman dan ilmu yang cukup.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2008/06/membongkar-jaringan-akkbb-bag1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BAJN ( Badan Anti Jaringan Islam Liberal Nasional)</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/06/bajn-badan-anti-jaringan-islam-liberal-nasional/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/06/bajn-badan-anti-jaringan-islam-liberal-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 12:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/06/bajn-badan-anti-jaringan-islam-liberal-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Bebas aja&#8230; <img src='http://fauzanrizki.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> silahkan klu ada yang mau Menanggapi &#8230; </p>
<p>Untuk mempelajari Islam yang sempurna dr A - Z, dan bukan islam Liberal ya baca buku-buku dibawah ini &#8212; Silahkan Download kitab2 yang terdapat dalam link dibawah ini : Perpustakaan Islam di Dunia Maya Terlengkap yang pernah saya Jumpai <img src='http://fauzanrizki.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>http://www.almeshkat.com/books/index.php</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />Assalamualaikum wr wb. </p>
<p>Aneh terkadang, sungguh aneh.. Orang islam tapi meragukan konsep keislaman, Orang islam tp merongrong sumbu-sumbu keislaman; Orang islam tp Bodoh soal islam; Orang islam tp mudah menghina Menjelek2an orang islam lain; Orang islam tp tidak mau melaksanakan Syariah Islam; Orang islam yang mengagung-agungkan akal daripada wahyu; Orang islam yang lebih bangga terhadap tulisan-tulisan orang barat non islam. Apa sih maunya&#8230; klu meragukan islam kenapa mesti bingung-bingung Keluar saja dr Islam, Beres !&#8230; jangan mengatas namakan islam kemudian merongrong dan menghancurkan sendi2 keislaman yang ada. Sungguh mereka itu bagaika VIRUS.. VIRUS yang sangat berbahaya. </p>
<p>Sangat2 geli sekali ketika membaca buku karangan Zuhairi Misrawi dkk. &quot;dari Syariah ke Maqashid Syar&#8217;iyyah&quot; sungguh saya katakan mereka adalah orang2 Bodoh dalam Syariah Islam.</p>
<p>Zuhairi Misrawi Lulusan AL AZHAR&#8230;.. tp demi ALLAH Universitas Al AZhar khususnya Fakultas Syariah Al Azhar sedikitpun tidak mengajarkan seperti kaum2 JIL ucapkan. Jadi jangan dikaitkan mereka2 itu dengan Institusi pendidikannya. Jauh Panggang dr Api.</p>
<p>Mengapa mereka bisa begitu..? sebuah pertanyaan yang terkadang tak terelakan. Koq bisa ya mereka berfikiran seperti itu&#8230; padahal mereka tahu Qur&#8217;an dan Hadits. Singkat saja&#8230; </p>
<p>Pertama : Hermeneutika.. ya Hermeneutika&#8230;. sebuah metode panafsiran Bible, yang menanamkan Azaz Konteks bukan Teks, tidak ada kebenaran Muthlak dll&#8230;</p>
<p>Mari kita selami antara Bible dan Qur&#8217;an&#8230; <br />1. Bible itu dikarang oleh orang yang sama sekali tidak pernah ketemu dengan Nabi Isa. Sedangkan Qur&#8217;an.. itu wahyu yang ditulis pada Zaman nabi Muhammad. dalam istilah hadits Bible itu tergolong Hadits MURSAL (yang tidak menyambung sanadnya ke Rasul). Para ulama mengatakan Hadits Mursal itu tidak bisa dipakai kecuali ada syarat2 khusus. Jadi,Sah-sah saja klu Hermeneutika itu dipakai dalam metode penafsiran Bible krn itu td&#8230; orang yg mengarangnya tdk pernah ketemu nabi Isa. Bible itu dengan hadits Masyhur saja sudah kalah Derajatnya, apalagi dibandingkan dengan hadits Mutawattir lebih jauh lg drajatnya, apalagi dengan Al Qur&#8217;an lebih jauh lagi. Al Qur&#8217;an yang setiap kata-katanya Mutawattir&#8230; Semua sahabat2 Menyaksikannya, Menghapalnya&#8230;. &amp; Menjaganya. Coba lihat Jutaan orang yang hapal QUR&#8217;AN sedangkan coba cari adakah org Kristen yg hapal BIBLE &#8230;?? dengan tanpa salah satu huruf Pun hatta Paulus pun.</p>
<p>ya gimana ga dikatakan Bodoh masa mereka menyamakan Al Qur&#8217;an dg Bible&#8230; hahaha ya jelas BODOH bin BLOON.</p>
<p>Kedua : Rujukan-Rujukan Bacaan mereka bukan rujukan karangan ulama-ulama islam yg Ikhlas&#8230; yang Betul2 hidup untuk memperjuangkan izzah islam tapi yang mereka suka baca ya buku2 karangan para Orientalis.. para intelek Bodoh yg sudah di Cap Kafir uleh Jumhur Ulama Islam. dg dipoles Filsafat &amp; pki Bhs yg memukau&#8230; akhirnya mereka Tertipu dg itu.</p>
<p>Saya kira 2 hal itu td yg menjadi Faktor dominan sehingga mereka terjerumus dalam lembah Hitam lebih menghancurkan lagi dibanding Narkoba.<br />Yu kita rame2 bikin Gerakan&#8230;.. namanya BAJN ( Badan Anti Jaringan Islam Liberal Nasional )</p>
<p>Ketiga : <br />Keempat: dst.. itu semua faktor pengikut dr yg 2 tadi &#8230;</p>
<p>Wallahu &#8216;Alam Bishawab&#8230;</p>
<p>Wassalam, <img src='http://fauzanrizki.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <br />M. Hasbi&#8230; <br />Fak. Syariah Al Azhar mo tkt. 4 Insya Allah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/06/bajn-badan-anti-jaringan-islam-liberal-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Rabbani</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/manusia-rabbani/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/manusia-rabbani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 16:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/manusia-rabbani/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma"><br />Oleh: Haris Ramlan</span></strong><br /><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">&nbsp; &nbsp;&nbsp; &nbsp;Siapa<br />
di antara kita yang tidak ingin menjadi manusia <em>Rabbany</em>? Siapa di antara<br />
kita yang merasa ragu untuk dicintai dan diridhai oleh Dzat Yang Menciptakan jagat<br />
raya ini? Adakah di antara kita yang merasa malu berada dalam <em>ri&#8217;ayah Ar Rahman?</em></span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Menjadi<br />
manusia <em>rabbany </em>merupakan impian setiap muslim. Karena sesuai dengan<br />
artinya, manusia <em>rabbany </em>ialah manusia yang senantiasa terkait dengan<br />
Allah SWT. Segala aktivitas kehidupannya selalu berporos pada nilai-nilai <em>Ilahiyyah</em>.<br />
Ia senantiasa bersandar penuh kepada Allah, sehingga segala sesuatu yang ia<br />
hadapi senantiasa dipandang dari sudut keimanan dan ketakwaan. Tidak ada unsur<br />
kepentingan dunia semata dalam kamus kehidupannya. Tidak ada pengaruh ego<br />
pribadi dalam setiap keperluannya.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Sosok<br />
manusia <em>rabbany</em> memiliki ketenangan jiwa dan kekokohan kepribadian yang<br />
sangat tinggi. Rasa gelisah, cemas dan takut sudah ia ganti dengan keoptimisan,<br />
tawakkal dan ridha serta kesabaran. Lilitan masalah dalam kehidupan atau<br />
tumpukan beban yang menggunung tidak pernah melemahkan semangatnya dalam<br />
beribadah. Juga tidak menjadikannya mengasingkan diri dari keramaian dan<br />
interaksi sosial. Ia tetap saja tegar seperti karang di lautan.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Keistiqamahan<br />
menjadi cirinya yang khas. Ketika ia mendapat ujian dan cobaan, ia senantiasa<br />
bermunajat kepada Allah. Malam-malamnya ia lewati dengan <em>qiyamullail</em> dan<br />
isak tangis pengharapan. Dan ketika ia terlepas dari ujian pun, ia tetap<br />
melakukan aktivitas-aktivitas ibadah dengan sempurna. Ia tetap lewati fase<br />
kehidupan malamnya dengan rintihan dan tangisan.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Prinsip<br />
dalam mengarungi kehidupan malamnya tidak pernah berubah. Seperti yang pernah<br />
diwasiatkan oleh Asy Syahid Hasan Al Banna, &quot;<em>Detik-detik malam<br />
sangatlah mahal, maka janganlah engkau murahkan dengan kelalaian&quot;.</em></span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Ada<br />
banyak kisah dalam sejarah yang menceritakan manusia-manusia tangguh seperti<br />
itu. Manusia-manusia <em>rabbany</em> yang hidup menghiasi dunia untuk menebarkan<br />
teladan dan kebaikan. Semua sahabat Rasulullah SAW. memiliki karakteristik<br />
seperti itu. Begitu juga dengan <em>salafuna ash-shalih</em> dan juga generasi<br />
setelahnya yang senantiasa berada dalam barisan keimanan dan barisan dakwah,<br />
mereka merupakan profil manusia-manusia <em>rabbany</em>.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Mereka<br />
tidak pernah terputus. Datang silih berganti meneruskan tugas suci yang telah dirintis.<br />
Menebarkan teladan dan kebaikan. Menjadi telaga kehidupan bagi masyarakat yang<br />
haus pancaran keimanan. Keberadaan mereka dirindukan banyak orang. Ketiadaan<br />
mereka berarti sebuah kehilangan.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Dan<br />
tentu saja, kita semua pun sangat berharap untuk menjadi bagian dari mereka.<br />
Kita sangat menginginkan menjadi sosok manusia-manusia <em>rabbany</em>,<br />
manusia-manusia yang berada dalam cinta dan ridha-Nya. Manusia yang memiliki<br />
kecenderungan-kecenderungan <em>rabbaniyyah</em> dalam setiap kehidupannya.<br />
Meskipun terkadang aktivitas kita sebenarnya masih terlalu jauh untuk<br />
mendapatkan anugerah seperti itu. </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Atau<br />
mungkin saja kita sudah berusaha, dan banyak aktivitas ibadah yang kita<br />
lakukan, akan tetapi kita masih saja merasakan sesuatu yang hambar dalam ruh<br />
dan jiwa kita. Kita masih belum bisa merasakan kelezatan iman dan kekentalan <em>ruhiyyah</em>.<br />
Kita masih merasakan sesuatu yang kurang dalam diri ini. Semacam kekeringan<br />
hati atau perasaan datar terhadap aktivitas ibadah yang kita lakukan.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Yang<br />
kita perlukan di sini adalah pemberdayaan hati. Karena hati adalah kunci dari<br />
segalanya. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. &quot;<em>Ingatlah<br />
dalam jasad manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka akan baik<br />
seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasadnya. Itulah<br />
hati.&quot;</em></span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Sosok<br />
manusia rabbani memiliki kejernihan hati. Hati mereka tidak tertawan oleh<br />
kehidupan dunia. Hati mereka tidak tergoda oleh gemerlap dunia. Hati mereka<br />
tidak terkicuhkan oleh kesenangan nafsu yang menggelora. Ketika mereka berhasil<br />
memberdayakan hati, maka aktivitas ibadah yang mereka lakukan betul-betul<br />
menjadi <em>supply</em> energi keimanan bagi jiwa mereka. <em>Ruhiyyah</em> mereka<br />
mengental dan hubungan mereka dengan Alah pun menjadi semakin menguat.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Semuanya<br />
bermula dari hati. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam<em><br />
musnad</em>nya, Rasulullah SAW. Bersabda, <em>&quot;Demi Dzat yang diriku berada<br />
di tanganNya, seseorang belum dikatakan berislam sebelum hatinya berserah<br />
kepada Allah SWT&quot;.</em></span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Ada<br />
hubungan yang sangat kuat antara hati dan fisik serta aktivitas kesehariannya.<br />
Manusia <em>rabbany </em>bukan hanya orang yang senantiasa memenuhi<br />
kewajiban-kewajibannya, melaksanakan ritual ibadah dan aktivitas-aktivitas<br />
kebaikan lainnya. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, manusia <em>rabbany</em><br />
adalah manusia yang senantiasa menghayati ibadah-ibadah yang ia tunaikan. Ia<br />
berusaha menjiwai setiap aktivitas kebaikan yang ia lakukan. Ia mampu merasakan<br />
getaran keimanan ketika dan setelah selesai dari suatu amal shaleh. Seluruh<br />
amalannya bersumber dari dua kekuatan: kekuatan &#8216;faham&#8217; (kesadaran) dan<br />
kekuatan &#8216;ikhlas&#8217;.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Perlu<br />
latihan yang panjang (<em>tarbiyah</em>) untuk menuju ke arah sana. Perlu <em>tadlhiyah</em><br />
dan kesabaran untuk menggapai derajat <em>rabbaniyyah</em> seperti yang kita<br />
harapkan. Dan perlu sebuah komunitas yang mendukung (suasana keislaman) yang<br />
akan menjadi kontrol sosial dalam proses tersebut.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Dan<br />
semuanya, tetap dibingkai dengan keoptimisan dan pengharapan yang tinggi kepada<br />
Allah SWT. Seperti nasihat Nabi Yakub terhadap anak-anaknya, &quot;<em>Janganlah<br />
kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhya yang berputus asa dari<br />
rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir&quot;.</em> (Yusuf : 87)</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Tahoma">Akhirnya,<br />
penulis hanya bisa menutup tulisan ini dengan untaian sebuah doa; &quot;<em>Ya<br />
Allah, Wahai Yang Membolak-balikan hati! Tetapkanlah hati kami dalam keta&#8217;atan<br />
pada-Mu&quot;.<strong>Wallahu a&#8217;lam bishawab.</strong></em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/manusia-rabbani/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Konsultasi Agama (HARUS BACA)</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/konsultasi-agama-harus-baca/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/konsultasi-agama-harus-baca/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 16:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/konsultasi-agama-harus-baca/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Assalamu<br />
&#8216;Alaikum Wr. Wb.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Ust,<br />
Ulyadi Lc, yang diberi amanah ilmu dan yang diangkat derajatnya oleh Allah &#8216;<em>Azza<br />
wa Jalla bi idznillah, Amiin</em>. Sekaligus yang <em>ana</em> hormati.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Sebelumnya, <em>Ana</em> adalah seorang Abdullah yang diselimuti akan<br />
keragu-raguan. Adapun keragu-raguan itu, ketika <em>ana</em> jauh dari negaraku. <em>Ana</em><br />
merasakan keraguan yang begitu mendalam. Keraguan itu adalah sebulan sebelum<br />
keberangkatan <em>ana</em> ke Mesir, <em>ana</em> telah ungkapkan rasa suka <em>ana</em><br />
kepada seorang muslimah yang menurut <em>ana</em> dan kakak <em>ana</em>, ia adalah<br />
muslimah yang baik. Seminggu kemudian <em>ana</em> mendapatkan surat yang isinya,<br />
ia (muslimah itu) telah memusyawarahkan dengan kedua orang tuanya dan kedua<br />
orang tuanya merespon dengan baik (menyetujui hubungan ini menuju ke<br />
pelaminan).</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Tetapi setelah itu, <em>ana</em> <em>keburu</em> meninggalkan Indonesia, dan<br />
belum meng<em>hitbah</em> muslimah itu. Yang <em>ana</em> tanyakan, dzalimkah <em>ana</em><br />
dalam keadaan seperti ini? Dan bagaimna solusinya? <em>Syukran jazilah</em> atas<br />
jawaban Ustadz.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Yang<br />
rindu akan jawaban</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Abdullah</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">&nbsp;</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Jawaban:</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Akhil<br />
karim</span></em><span lang="IN" style="font-size: 14pt"> yang dimuliakan Allah SWT. <em>Ana</em> ucapkan terima<br />
kasih atas kepercayaan dan do’a yang telah <em>Akhi</em> berikan. Sedikit <em>ana</em><br />
ingin mengklarifikasi bahwa <em>ana</em> belumlah bisa dikatakan orang berilmu. <em>Ana</em><br />
juga masih dalam tahap belajar seperti <em>Akhi</em>. Dan <em>ana</em> masih banyak<br />
kekurangannya. Ya Allah jadikanlah hamba lebih baik dari apa yang mereka sangka<br />
dan ampunilah hamba dari apa yang tidak mereka ketahui. </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Mengenai<br />
masalah <em>Akhi</em>, pertama sekali <em>ana</em> doakan semoga Allah<br />
memudahkannya dan menghilangkan keragu-raguan yang ada dalam diri <em>Akhi</em>. </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Sebagaimana<br />
yang kita ketahui bersama, bahwa Islam adalah agama fitrah. Agama yang datang<br />
sesuai dengan <em>sunnah kauniyah</em> yang Allah tetapkan di muka bumi. Salah<br />
satu dari fitrah itu adalah ketertarikan seseorang kepada lawan jenisnya. Allah<br />
SWT. berfirman yang artinya:</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN" style="font-size: 14pt">“Dihiaskan<br />
kepada manusia berupa kecintaan syahwat kepada Wanita, anak, dan harta yang<br />
berlimpah ruah” Q.S. Ali Imran: 14)</span></em><span lang="IN" style="font-size: 14pt"> </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Islam datang bukanlah untuk mematikan fitrah. Akan tetapi Islam menyalurkannya<br />
melalui cara-cara yang mulia dan <em>mashlahat</em> untuk manusia itu sendiri.<br />
Untuk menyalurkan rasa ketertarikan pada lawan jenis misalnya, maka Islam<br />
mensyariatkan nikah. Banyak <em>mashlahat</em> dan manfaat yang dapat diambil<br />
melalui nikah. Di antaranya adalah menjaga keturunan yang jelas. Menumbuhkan<br />
rasa tanggung jawab kedua pasangan terhadap keturunannya. Menumbuhkan rasa<br />
kasih sayang dan kenyamanan antara kedua pasangan. Pembagian tugas dan<br />
keteraturan dalam keluarga. Dan masih banyak manfaat yang lain yang tidak dapat<br />
diraih tanpa menikah. Maka dari itu Allah mengutus para rasul dan menjadikan<br />
bagi mereka isteri-isteri dan keturunan. Allah SWT berfirman:</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN" style="font-size: 14pt">&quot;Dan<br />
sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelum engkau dan Kami jadikan bagi<br />
mereka isteri-isteri dan keturunan&quot;. (Q.S. Ar Ra’d: 38)</span></em></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt">Yang <em>Akhi</em><br />
rasakan dalam diri <em>Akhi</em> tentulah berasal dari fitrah. Dan tentu itu<br />
adalah suatu hal yang baik bila kita menyikapinya sesuai dengan tuntunan agama Islam<br />
yang kita yakini. Semuanya kembali pada diri <em>Akhi</em>. Bila <em>Akhi</em> merasa<br />
sudah siap secara mental dan materi untuk membina keluarga, maka segeralah<br />
menghubungi orang tua <em>Akhi</em> dan meminta persetujuan mereka berdua<br />
terhadap niat <em>Akhi</em> yang suci. Kalau orang tua <em>Akhi</em> sudah setuju<br />
maka segeralah menghubungi keluarganya. Kemudian segera melakukan proses<br />
sehingga tidak menimbulkan fitnah yang tidak baik. Namun bila <em>Akhi</em> belum<br />
berkeinginan untuk membina keluarga pada saat sekarang, maka saran <em>ana</em><br />
hubungan <em>Akhi</em> dengan muslimahnya tidak bagus untuk dilanjutkan. Karena<br />
itu akan menambah beban bagi <em>Akhi</em> dan baginya. Dan mungkin akan<br />
mengganggu proses study <em>Akhi</em> di sini. Adapun ungkapan suka yang <em>Akhi</em><br />
sampaikan&nbsp;kepadanya belumlah menciptakan<br />
hubungan apa-apa dalam pandangan Islam. Bila <em>Akhi</em> memilih yang pertama<br />
maka melangkahlah dengan <em>bismillah</em>. Dan bila <em>Akhi</em> memilih yang<br />
kedua maka bersabarlah dan yakinlah kepada Allah SWT. Kalau memang jodoh dia<br />
tidak akan ke mana. Dan kalau dia bukan jodoh <em>Akhi</em>, insya Allah, Allah<br />
akan ganti dengan yang lebih baik untuk diri <em>Akhi</em>. Ubai bin Kaab berkata<br />
sebagai mana yang diriwayatkan oleh Imam Waki&#8217; dalam AzZuhd :</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN" style="font-size: 14pt">&quot;Tiadalah<br />
dari seorang hamba yang meninggalkan sesuatu karena Allah melainkan Allah akan<br />
menggatikannya dengan yang lebih baik tanpa dia kira&quot;.</span></em><span lang="IN" style="font-size: 14pt"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/konsultasi-agama-harus-baca/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TERBADAI  (SASTRA)</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/terbadai-sastra/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/terbadai-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 16:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/terbadai-sastra/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span lang="IN">Oleh : Rais Rahma Fathoni</span></strong></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">N</span><span lang="IN">ama itu Magdi. 1 I’dadiah, usia 13 tahun.<br />
Sudah 6 bulan, ayahnya, Sayyid, di-PHK dari&nbsp;sebuah PT. Sedang bundanya, hanyalah guru TK. 150 pound setiap bulannya.<br />
Uang segitu mana cukup untuk menghela nafas. Belum si Ayah, pecandu rokok bak<br />
asap kereta.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Akhir-akhir<br />
ini ayah suka marah. Tanpa ada sebab yang jelas. Ayah juga suka<br />
membesar-besarkan masalah. Tangan Magdi pernah disundut bara rokok, hanya<br />
karena terlalu lama di kamar mandi. Memang kenapa sih kalau lama di kamar<br />
mandi? Bukankah kamar mandi milik keluarga? Memang zaman sekarang ada pajak<br />
kamar mandi?! Duh, ayah, lama-lama seperti orang depresi!</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Belum<br />
lagi kalau ayah sedang ribut dengan bunda, Magdi hanya bisa <em>ngumpet</em> di kolong<br />
ranjang. Kadang ditampar, dipukul, atau dijambak. Pernah juga kerudung bunda<br />
robek. Tak tega Magdi mendengar tangis getir bunda. Diam-diam, Magdi suka<br />
melukis ayah di buku sekolah. Gambarnya mirip setan. Rambutnya gondrong, keluar<br />
api dari mulutnya, ada tanduk dan sepasang taring gigi yang keluar. Magdi tahu<br />
agama melarang ini. Tapi, puas rasanya bisa menggambar seperti itu.</span></p>
<p align="center" dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Blepak!!</span></em><span lang="IN"> Seperti&nbsp;kilat menyambar di mata.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Magdi<br />
mengaduh. Ayah mana peduli. Rasanya pegitu perih. Ditutupnya mata dengan<br />
telapak tangan untuk sedikit mengurangi sakit. Ternyata darah! Mata Magdi<br />
berdarah oleh pukulan ayah! </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Langsung<br />
Magdi pingsan tak sadar diri.</span></p>
<p align="center" dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Terpikir<br />
akan dibawa ke rumah sakit. Ternyata hanya berbaring di balai reot, ruang tamu.<br />
Ada bunda di sampingnya. Mata wanita itu sembab, tak banyak bicara. Namun getar<br />
cintanya, sungguh dapat dirasa. Magdi hanya bisa menatap dengan satu mata.<br />
Sebab mata yang berdarah ditutup perban. Kemana ayah? Magdi mencari. Iya, ayah.<br />
Kemana dia? Memutar pandangan mencari sosoknya. <em>Deg!</em> Jantung Magdi<br />
terdetak kencang. Dada membuncah. Rasa tak percaya, bercampur dendam. </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Oh,</span></em><span lang="IN"> ayah… Seperti tak terbetik rasa salah. Di sudut ruang, duduk santai<br />
laksana raja bertahta. Mengisap rokok dalam-dalam.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Magdi<br />
memenjam mata. Ada tangis di sudutnya. Dan perih di salah satu bolanya. Bunda<br />
mengusap tangis dengan tangan yang berumur, namun masih lembut. Diraihnya<br />
tangan keriput itu. &quot;Ibu yang baik, izinkan aku pergi tinggalkan<br />
rumah!&quot;</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Magdi<br />
sadar, bunda laksana mendengar guntur. Petir yang menyambar dadanya. Setitik<br />
demi setitik, tangis bunda pecah, dan menitik di wajah Magdi. Pundak tua itu<br />
bergetar hebat menahan sesenggukan.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">&quot;Bagaimana,<br />
Bunda?&quot; tanya Magdi. Cukup perih.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">&quot;Anak<br />
yang kucinta, Bunda tak memiliki pilihan. Apalagi engkau lelaki. Tahukah<br />
Engkau? Tapi aku diguncang badai.&quot;</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">&quot;Tenanglah,<br />
Bunda.&quot; Terang Magdi menenangkan. &quot;Aku akan baik-baik saja. Sebab di<br />
jalanan sana, orang baik ada di mana-mana.&quot;</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Krengkeeeet….</span></em><span lang="IN"> Suara pintu rumah. Ayah keluar. Entah ke mana. <em>Aiiihhh,</em> masihkah<br />
ada nurani di dadanya. Gelap mata Magdi melihatnya. tak perlu banyak bicara,<br />
langsung loncat dari balai. Diciumnya tangan bunda. Dengan pakaian yang<br />
selembar ini, akan menapaki jalanan tanpa ujung!</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">&quot;<em>Ma&#8217;assalamah</em>,<br />
Bunda! Teriaknya sebelum menutup daun pintu. Dan terlihat tubuh bunda bergetar<br />
hebat.</span></p>
<p align="center" dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Masih<br />
jauh hari menuju terang. Remang-remang pekat malam. Mencari setitik terang pada<br />
lampu neon peron stasiun. Menelusuri jejak panjang rel kereta. Terlalu jauh<br />
terhempas kehidupan. Menghirup dalam nafas tanpa rasa, hanya memenuhi rongga,<br />
lantas hilang begitu saja.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Seperti<br />
ini ternyata rasa jalanan. Sudah satu minggu Magdi menyeret langkah tanpa arah.<br />
Tak adakah yang tahu, akan ia yang belum makan dari kemarin pagi. Terpaksa<br />
meneguk air-air masjid atau kran pinggir jalan. Magdi tahu tentang indahnya<br />
jalan pulang. Tapi, <em>ah</em>, tak perlu dikenang lagi.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Kembali<br />
matanya sukar mengatup. Lapar merayap hingga ubun-ubun. Ditariknya badan hilang<br />
tenaga itu. Ke mana ia mencari orang baik di kebutaan malam seperti ini?<br />
Nalarnya telah pingsan. Magdi melangkah, <em>&quot;mungkin masjid lag&quot;i</em>,<br />
batinnya.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Terbelalak<br />
Magdi sampai di masjid. Pintu tutup. Tak kuat lagi ia menopang tubuh, apalagi<br />
melangkah. Dirobohkan badan pada pintu masjid yang rapat itu. Menyebut satu<br />
harapan: <em>Usturna ya Rabb…</em>begitu pelan, setengah membisik.</span></p>
<p align="center" dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Terjengkang<br />
Magdi saat pintu masjid di buka, jam setengah lima pagi. Subuh sebentar lagi<br />
menyapa. Berarti, penuh sudah, sehari semalam tanpa makan. Mencari ia tempat<br />
wudhu, lama-lama berada di sana. Minum, mengurangi lapar. Cuci muka, basahi<br />
rambut, supaya makin segar.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Hingga<br />
adzan menggema, ia masih di situ. Adzan Subuh yang syahdu, tak terasa hangat<br />
menyelimuti kelopaknya. “Bunda…<em>inti fien</em>?” Kembali ia merajuk pada<br />
wanita terindah dalam hidupnya. Kerinduan berpadu kemalangan. Dan matanya<br />
berair-air. </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Terdengar<br />
bunyi sandal terseret, bergegas disapu air mata itu. Buru-burunya berwudhu.<br />
Menghilangkan bekas kesedihan. Dan berharap pada Sang Maha: <em>&quot;Rabb</em>…<br />
hamba lapar”. Air matanya masih menderai, bercampur basuhan wudhu.&nbsp;</span></p>
<p align="center" dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Pak,<br />
tolonglah saya, izinkan saya tinggal barang sekejap. Saya tak ada tempat<br />
tinggal.” Penjaga masjid yang diajak bicara diam saja. Bapak itu tak bergeming.<br />
“Pak…”, kembali Magdi merengek, “Tolonglah.”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Heh!<br />
Bukankah sudah aku bilang mesjid ini harus ditutup, dan kamu, harus keluar!<br />
Cepat, aku hendak tidur lagi!”, diseretnya Magdi. “Lepas!”, berontak Magdi.<br />
“Aku bisa jalan sendiri. Tak perlu kau seret-seret seperti ini.”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Bllaammm!!</span></em><span lang="IN"> Pintu masjid ditutup. Begitu menggelegar. Remuk pula prinsip Magdi. Dahulu<br />
ia yakin, &#8216;orang baik ada di mana-mana&#8217;. Sedang sekarang, ia pun begitu yakin,<br />
&#8216;orang jahat juga ada di mana-mana&#8217;.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Aiih</span></em><span lang="IN">, ada orang juga di luar masjid. Di bawah terang lampu neon. Membaca<br />
Qur’an, terdengar surah <em>Kahfi.</em> Surah yang sudah Magdi hafal. Lekat<br />
dipandangnya orang itu, berkaca mata. <em>Ajnabi</em>! Ingin benar Magdi bercakap<br />
dengan <em>ajnabi</em>.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">“Ismak<br />
eiy?”</span></em><span lang="IN"> Cuek saja <em>ajnabi</em> ini, terus tilawah. Memang susah<br />
kadang memulai bicara dengan <em>ajnabi</em>. Diam pula Magdi di sampingnya. Dari<br />
mana ia harus mulai kata perkenalan? Tanpa sadar Magdi menirukan tilawah si <em>ajnabi</em>.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Terbengong<br />
si <em>ajnabi</em>. “Kamu hapal <em>Kahfi</em>?” matanya tak berkedip.<em></em></span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Magdi<br />
mengangguk, dan meneruskan ayat yang baru saja dibaca <em>ajnabi</em>.<strong><em>&nbsp;</em></strong></span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">“Ismak<br />
eiy?” </span></em><span lang="IN">sekarang ganti ajnabi yang bertanya. “Magdi, kamu siapa?”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Abduh.”<br />
Jawab si <em>ajnabi</em>. </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Abduh,<br />
nama yang bagus. <em>Mea-mea</em>.” Magdi mengulurkan tangannya. Kening Abduh<br />
berkerut. Tak paham akan ingin Magdi. “Mulai sekarang,” kata Magdi, “Kita<br />
kawan.” <em>Ooo,</em> pahamlah Abduh dengan maksud Magdi. Abduh mengangguk.<br />
Menyambut tangan Magdi dengan tangannya, “Sahabat!!”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Inginkah<br />
kau dengar keluhanku?” tanya Magdi. Abduh belum sempat menjawab, tapi Magdi<br />
meneruskan katanya. “Saya belum makan sedari kemarin pagi.”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Pahit<br />
dan perih sekali kerongkongan Abduh mendengar keterangan itu.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Saya<br />
pergi dari rumah. Ada masalah dengan ayah. Ayah kejam. Suka menyiksa. Saya tak<br />
betah</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">tinggal di rumah. Maukah kau<br />
menampungku sementara waktu?”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Mendetak<br />
kencang jantung Abduh. “Jangan konyol, kau!!”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Kenapa?!,”<br />
suara Magdi setengah meninggi, “Bukankah kita sahabat?!”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Kita<br />
berbeda kebiasaan. Kita tidak sama.”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Aku<br />
bisa membantumu menyapu, mengepel, mencuci. Tanpa akan meminta bayaran. Cukup<br />
aku bisa makan dan tidur saja. Aku juga tak perlu tempat tidur. Aku boleh tidur<br />
di mana saja serelamu.”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Magdi,<br />
aku bisa memahamimu. Aku pun bisa menerimamu. Tapi teman-temanku…”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Kenapa<br />
dengan teman-temanmu, Abduh? Aku tak mungkin mencuri!!”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Panjang<br />
nafas Abduh berhembus. <em>Apa maksud ini ya Rabb…</em></span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Abduh,<br />
belum kau jawab, kenapa dengan teman-temanmu itu?”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Kau<br />
harus tahu, kita berbeda dalam banyak hal, Magdi.”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Jadi<br />
kau tidak menerimaku?! Begitu bukan maksudmu?!,” Magdi beranjak dari duduknya.<br />
Memilih tempat lain. “Pergilah, dan tak ada kata kawan!”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Magdi…<br />
bukan itu.”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Tak<br />
perlu bicara lagi. Sebenarnya, kau mau menampungku atau tidak?!”</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Abduh<br />
tak menjawab. Dibukanya lagi mushaf. Diteruskan kembali tilawah surah <em>Kahfi.</em><br />
Sedangkan Magdi, melipat kakinya., menyandarkan dua sikunya pada lutut.<br />
Dan&nbsp;lama menenggelamkan muka di sana.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Selesai<br />
tilawah, “Magdi, jika kau hendak ikut aku, kau harus siap menghadapi perbedaan.<br />
Itu saja </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">pesanku.”<br />
Mata Magdi berbinar. Mengangguk.</span><span lang="IN">&nbsp;</span><span lang="IN"></span></p>
<p align="center" dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: center"><span lang="IN">*****</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Dan<br />
satu minggu setelah itu,</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Bllaaarrr!!<br />
Blarrrr!! Blarrrr!!</span></em><span lang="IN"> Suara pintu rumah digedor dengan kurang<br />
sopannya. Abduh yang membuka pintu. Didapatinya dibalik daun pintu itu, dua<br />
orang Mesir tinggi besar.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Mana<br />
Abduh?!” Suaranya menggelegar. Berputar pikiran Abduh. <em>Kenapa mencari saya?</em><br />
Ada kehawatiran memompa kencang detak jantungnya. Gagap Abduh berkata: “Say-yaa</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">sen-dii-ri.<br />
A-da y-yang bi-sa di-bantu…?!” Seorang darinya mengeluarkan kartu tanda<br />
pengenal. Polisi! <em>Aiihh,</em> apa pula ini?! &quot;Kau, Abduh, tersangka<br />
kasus penculikan! Lekas ikut kami ke kantor!!&quot;</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Keringat dingin Abduh<br />
mendengarnya. Serasa langit robek-robek oleh suara itu </span><span lang="IN" style="font-size: 8pt;font-family: Wingdings">q</span><span lang="IN"></span></p>
<p dir="rtl" class="MsoNormal"><span dir="ltr">&nbsp;</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: left">&nbsp;</p>
<p dir="rtl" class="MsoNormal"><span dir="ltr">&nbsp;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/terbadai-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ZAINAB AL- GHAZALI  (TOKOH)</title>
		<link>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/zainab-al-ghazali-tokoh/</link>
		<comments>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/zainab-al-ghazali-tokoh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2007 16:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fauzanrizki</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/zainab-al-ghazali-tokoh/</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Garamond"> </span></strong></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Garamond">Oleh : Andrean</span></strong></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Garamond">&nbsp;2 Januari 1917,<br />
di wilayah Al Buhairah, lahirlah sesosok bayi perempuan yang kelak akan menjadi<br />
<em>ummul mujahidah</em> terkemuka. Dari keluarga yang berpegang teguh pada Al Quran<br />
dan As Sunah, beliau dinamakan Zainab Al Ghazali Al Zubaily. Ayahnya seorang<br />
ulama Al Azhar yang berpengaruh. Sejak kecil ia sudah menjalani proses <em>tarbiyah<br />
rabbani</em>. Saat berumur sepuluh tahun, sang ayah berpulang ke <em>rahmatullah</em>.<br />
Mengajarkannya untuk tetap tegar dan <em>ridha</em> pada setiap ketentuan Allah. Kemudian<br />
beliau dibawa ke Kairo. </span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Garamond">Di Kairo jiwanya bergelora untuk berperan aktif dalam<br />
bidang kemasyarakatan. Sampai akhirnya beliau terlibat dalam organisasi wanita<br />
liberal di bawah pimpinan Huda Syaarawi. Kembali Allah menguji kesabarannya dengan<br />
penyakit kronis yang harus dideritanya. Pada saat itulah beliau tersadar dari<br />
kesia-siaan apa yang telah dilakukannya. Beliau pun memohon kepada Allah atas keluasan<br />
rahmatNya dan berjanji akan meninggalkan organisasi liberal tersebut. Rahmat<br />
Allah pun meliputinya dan penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Beliau pun mulai<br />
merintis sebuah organisasi wanita sebagai ungkapan rasa syukur dan pemenuhan<br />
janjinya. Pada tahun 1937 organisasi itu berdiri yang mempunyai visi untuk<br />
mendidik wanita muslim dan memberi bantuan kepada anggota keluarga muslim yang<br />
membutuhkan. Pada tahun yang sama, beliau sering berdiskusi dengan Imam Ass<br />
Syahid Hassan Al Banna. Kemudian organisasinya menjadi salah satu cabang<br />
pergerakan <em>Ikhwanul Muslimun</em>. Kekuatan dan perkembangan organisasi muslimah<br />
tersebut meningkat berkat usaha dan perjuangan beliau yang berkesinambungan.<br />
Hal itu terlihat dengan banyaknya wanita Islam di Mesir yang bergabung<br />
dengannya. Mereka ditaburi benih-benih keimanan dan perjuangan di dalam jiwa<br />
mereka.</span></p>
<p dir="ltr" class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN" style="font-size: 14pt;font-family: Garamond">Di antara mereka yang dekat hubungan dengannya adalah dua<br />
saudari Sayid Qutb yaitu Aminah Qutb dan Hamidah Qutb, Halidah Hasan Al Hudaiby,<br />
Al Hayyah Sulaiman Al Zubair, Fatiraah Al Fath, Aminah Al Jauhaty dan<br />
lain-lain. Ketegarannya membuat Presiden Gamal Abdul Naser memintanya agar<br />
memimpin sayap wanita Partai Sosialis, akan tetapi beliau menolaknya. Keengganannya<br />
menyebabkan Presiden mengeluarkan instruksi agar organisasi muslimah yang<br />
dipimpinnya dibekukan dan segala penerbitannya dihentikan. Beliau lalu<br />
ditangkap pada agustus 1965 dan dijebloskan ke penjara selama enam tahun dengan<br />
berbagai siksaannya. Mari kita menghayati apa yang beliau ceritakan ketika<br />
berada di penjara di dalam bukunya <em>Ayyam Min Hayati</em>. Pada agustus 1965<br />
rumahnya digeledah oleh beberapa tentara tanpa izin. Saat beliau meminta surat<br />
penggeledahan, mereka menjawab, &quot;Surat tugas yang mana, hai Orang Gila,<br />
kami sekarang dalam masa di mana kami bebas melakukan apa saja yang kami<br />
kehendaki terhadap kalian.&#8221; Dan tanpa bukti mereka menyeret beliau keluar<br />
rumah dan membawanya pergi. Tanpa persidangan dan pembelaan, beliau dijebloskan<br />
ke penjara. Beliau tetap sabar dan mengharap pahala dari Allah atas ujian yang<br />
diterimanya. Beliau dimasukan ke penjara no 24. Beliau menceritakan, &#8221;Sebuah pintu<br />
ruangan yang sangat gelap dibuka, lalu aku dimasukan ke dalamnya, aku lalu mengucakan<br />
<em>&#8221;Bissmillah Assalualaikum&#8221;, </em>kemudian pintu itu ditutup kembali, lalu lampu<br />
yang sangat terang dinyalakan dengan tiba tiba untuk menyiksa diriku, ruangan<br />
itu dipenuhi oleh anjing-anjing yang lapar. Aku tidak mengetahui persis berapa<br />
jumlahnya. Anjing-anjing itu langsung menyerangku dan menggigit sekujur tubuhku.<br />
Kurasakan tusukan-tusukan taring anjing-anjing itu, sakit sekali. Kala kumencoba<br />
membuka mata untuk melihat, maka dengan segera kupejamkan kembali karena<br />
ketakutan yang sangat mencekam. Kemudian kuletakan kedua tanganku di bawah<br />
kedua ketiakku sambil menyebut <em>Asma</em> Allah mulai dari, &#8221;Ya Allah, Ya<br />
Allah…&#8221; Satu persatu nama Allah kubaca, sementara anjing-anjing itu tiada<br />
henti menggigitku. Aku berdoa kepada Allah dengan mengatakan, &#8221;Ya Allah sibukkanlah<br />
diriku dengan mengingatmu, wahai Tuhanku, wahai Dzat yang Maha Esa, wahai Dzat yang<br />
menjadi tempat bergantung, bawalah aku dari alam kasar ini, sibukkanlah aku<br />
agar tidak mengingat seluruh hal selainMu, sibukanlah aku dengan mengingatMu,<br />
bawalah aku ke hadiratMu, berilah ketenangan yang sempurna dariMu, liputilah<br />
aku dengan pakaian kecintaanMu, berikanlah rezki mati <em>syahid </em>di jalanMu,<br />
karuniakanlah keteguhan sebagaimana keteguhan yang dimiliki oleh para ahli<br />
tauhid, ya Allah&#8221;. Doa tersebut kuucapkan dengan lirih. Detik demi detik, menit<br />
demi menit, jam demi jam pun berlalu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu aku<br />
dikeluarkan dari kamar yang sangat pengap dan mencekam tersebut. Aku membayangkan<br />
bahwa pakaian putih yang kukenakan&nbsp;telah<br />
berlumuran darah, itulah yang kurasakan dan kubayangkan bahwa anjing-anjing itu<br />
telah menggigitku, namun ternyata pakaianku tidak terkena sesuatu apapun dan<br />
seolah-olah tiada satupun taring yang menembus tubuhku Maha Suci Engkau ya<br />
Allah. Sesungguhnya Dia selalu bersamaku dan selalu mengawasiku. Ya Allah, apakah<br />
aku ini layak mendapatkan karunia dan kemuliaan darimu? Ya Tuhanku bagimu<br />
segala puji semua itu kuucapkan di dalam hati. Para sipir terperangah dan<br />
terheran-heran ketika mengetahui bahwa anjing-anjing itu tidak merobek-robek<br />
tubuhku Saya tidak mengetahui mengapa mereka amat terheran-heran menyaksikan<br />
hal seperti itu. Bukankah Allah telah berfirman &#8221;Hai orang-orang yang beriman<br />
jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan<br />
kedudukanmu&quot; Muhammad: 7.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fauzanrizki.blog.friendster.com/2007/03/zainab-al-ghazali-tokoh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>