Manusia Rabbani


Oleh: Haris Ramlan

      Siapa
di antara kita yang tidak ingin menjadi manusia Rabbany? Siapa di antara
kita yang merasa ragu untuk dicintai dan diridhai oleh Dzat Yang Menciptakan jagat
raya ini? Adakah di antara kita yang merasa malu berada dalam ri’ayah Ar Rahman?

Menjadi
manusia rabbany merupakan impian setiap muslim. Karena sesuai dengan
artinya, manusia rabbany ialah manusia yang senantiasa terkait dengan
Allah SWT. Segala aktivitas kehidupannya selalu berporos pada nilai-nilai Ilahiyyah.
Ia senantiasa bersandar penuh kepada Allah, sehingga segala sesuatu yang ia
hadapi senantiasa dipandang dari sudut keimanan dan ketakwaan. Tidak ada unsur
kepentingan dunia semata dalam kamus kehidupannya. Tidak ada pengaruh ego
pribadi dalam setiap keperluannya.

Sosok
manusia rabbany memiliki ketenangan jiwa dan kekokohan kepribadian yang
sangat tinggi. Rasa gelisah, cemas dan takut sudah ia ganti dengan keoptimisan,
tawakkal dan ridha serta kesabaran. Lilitan masalah dalam kehidupan atau
tumpukan beban yang menggunung tidak pernah melemahkan semangatnya dalam
beribadah. Juga tidak menjadikannya mengasingkan diri dari keramaian dan
interaksi sosial. Ia tetap saja tegar seperti karang di lautan.

Keistiqamahan
menjadi cirinya yang khas. Ketika ia mendapat ujian dan cobaan, ia senantiasa
bermunajat kepada Allah. Malam-malamnya ia lewati dengan qiyamullail dan
isak tangis pengharapan. Dan ketika ia terlepas dari ujian pun, ia tetap
melakukan aktivitas-aktivitas ibadah dengan sempurna. Ia tetap lewati fase
kehidupan malamnya dengan rintihan dan tangisan.

Prinsip
dalam mengarungi kehidupan malamnya tidak pernah berubah. Seperti yang pernah
diwasiatkan oleh Asy Syahid Hasan Al Banna, "Detik-detik malam
sangatlah mahal, maka janganlah engkau murahkan dengan kelalaian".

Ada
banyak kisah dalam sejarah yang menceritakan manusia-manusia tangguh seperti
itu. Manusia-manusia rabbany yang hidup menghiasi dunia untuk menebarkan
teladan dan kebaikan. Semua sahabat Rasulullah SAW. memiliki karakteristik
seperti itu. Begitu juga dengan salafuna ash-shalih dan juga generasi
setelahnya yang senantiasa berada dalam barisan keimanan dan barisan dakwah,
mereka merupakan profil manusia-manusia rabbany.

Mereka
tidak pernah terputus. Datang silih berganti meneruskan tugas suci yang telah dirintis.
Menebarkan teladan dan kebaikan. Menjadi telaga kehidupan bagi masyarakat yang
haus pancaran keimanan. Keberadaan mereka dirindukan banyak orang. Ketiadaan
mereka berarti sebuah kehilangan.

Dan
tentu saja, kita semua pun sangat berharap untuk menjadi bagian dari mereka.
Kita sangat menginginkan menjadi sosok manusia-manusia rabbany,
manusia-manusia yang berada dalam cinta dan ridha-Nya. Manusia yang memiliki
kecenderungan-kecenderungan rabbaniyyah dalam setiap kehidupannya.
Meskipun terkadang aktivitas kita sebenarnya masih terlalu jauh untuk
mendapatkan anugerah seperti itu.

Atau
mungkin saja kita sudah berusaha, dan banyak aktivitas ibadah yang kita
lakukan, akan tetapi kita masih saja merasakan sesuatu yang hambar dalam ruh
dan jiwa kita. Kita masih belum bisa merasakan kelezatan iman dan kekentalan ruhiyyah.
Kita masih merasakan sesuatu yang kurang dalam diri ini. Semacam kekeringan
hati atau perasaan datar terhadap aktivitas ibadah yang kita lakukan.

Yang
kita perlukan di sini adalah pemberdayaan hati. Karena hati adalah kunci dari
segalanya. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. "Ingatlah
dalam jasad manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka akan baik
seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasadnya. Itulah
hati."

Sosok
manusia rabbani memiliki kejernihan hati. Hati mereka tidak tertawan oleh
kehidupan dunia. Hati mereka tidak tergoda oleh gemerlap dunia. Hati mereka
tidak terkicuhkan oleh kesenangan nafsu yang menggelora. Ketika mereka berhasil
memberdayakan hati, maka aktivitas ibadah yang mereka lakukan betul-betul
menjadi supply energi keimanan bagi jiwa mereka. Ruhiyyah mereka
mengental dan hubungan mereka dengan Alah pun menjadi semakin menguat.

Semuanya
bermula dari hati. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
musnad
nya, Rasulullah SAW. Bersabda, "Demi Dzat yang diriku berada
di tanganNya, seseorang belum dikatakan berislam sebelum hatinya berserah
kepada Allah SWT".

Ada
hubungan yang sangat kuat antara hati dan fisik serta aktivitas kesehariannya.
Manusia rabbany bukan hanya orang yang senantiasa memenuhi
kewajiban-kewajibannya, melaksanakan ritual ibadah dan aktivitas-aktivitas
kebaikan lainnya. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, manusia rabbany
adalah manusia yang senantiasa menghayati ibadah-ibadah yang ia tunaikan. Ia
berusaha menjiwai setiap aktivitas kebaikan yang ia lakukan. Ia mampu merasakan
getaran keimanan ketika dan setelah selesai dari suatu amal shaleh. Seluruh
amalannya bersumber dari dua kekuatan: kekuatan ‘faham’ (kesadaran) dan
kekuatan ‘ikhlas’.

Perlu
latihan yang panjang (tarbiyah) untuk menuju ke arah sana. Perlu tadlhiyah
dan kesabaran untuk menggapai derajat rabbaniyyah seperti yang kita
harapkan. Dan perlu sebuah komunitas yang mendukung (suasana keislaman) yang
akan menjadi kontrol sosial dalam proses tersebut.

Dan
semuanya, tetap dibingkai dengan keoptimisan dan pengharapan yang tinggi kepada
Allah SWT. Seperti nasihat Nabi Yakub terhadap anak-anaknya, "Janganlah
kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhya yang berputus asa dari
rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir".
(Yusuf : 87)

Akhirnya,
penulis hanya bisa menutup tulisan ini dengan untaian sebuah doa; "Ya
Allah, Wahai Yang Membolak-balikan hati! Tetapkanlah hati kami dalam keta’atan
pada-Mu".Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply