Archive for March, 2007

Manusia Rabbani

Thursday, March 1st, 2007


Oleh: Haris Ramlan

      Siapa
di antara kita yang tidak ingin menjadi manusia Rabbany? Siapa di antara
kita yang merasa ragu untuk dicintai dan diridhai oleh Dzat Yang Menciptakan jagat
raya ini? Adakah di antara kita yang merasa malu berada dalam ri’ayah Ar Rahman?

Menjadi
manusia rabbany merupakan impian setiap muslim. Karena sesuai dengan
artinya, manusia rabbany ialah manusia yang senantiasa terkait dengan
Allah SWT. Segala aktivitas kehidupannya selalu berporos pada nilai-nilai Ilahiyyah.
Ia senantiasa bersandar penuh kepada Allah, sehingga segala sesuatu yang ia
hadapi senantiasa dipandang dari sudut keimanan dan ketakwaan. Tidak ada unsur
kepentingan dunia semata dalam kamus kehidupannya. Tidak ada pengaruh ego
pribadi dalam setiap keperluannya.

Sosok
manusia rabbany memiliki ketenangan jiwa dan kekokohan kepribadian yang
sangat tinggi. Rasa gelisah, cemas dan takut sudah ia ganti dengan keoptimisan,
tawakkal dan ridha serta kesabaran. Lilitan masalah dalam kehidupan atau
tumpukan beban yang menggunung tidak pernah melemahkan semangatnya dalam
beribadah. Juga tidak menjadikannya mengasingkan diri dari keramaian dan
interaksi sosial. Ia tetap saja tegar seperti karang di lautan.

Keistiqamahan
menjadi cirinya yang khas. Ketika ia mendapat ujian dan cobaan, ia senantiasa
bermunajat kepada Allah. Malam-malamnya ia lewati dengan qiyamullail dan
isak tangis pengharapan. Dan ketika ia terlepas dari ujian pun, ia tetap
melakukan aktivitas-aktivitas ibadah dengan sempurna. Ia tetap lewati fase
kehidupan malamnya dengan rintihan dan tangisan.

Prinsip
dalam mengarungi kehidupan malamnya tidak pernah berubah. Seperti yang pernah
diwasiatkan oleh Asy Syahid Hasan Al Banna, "Detik-detik malam
sangatlah mahal, maka janganlah engkau murahkan dengan kelalaian".

Ada
banyak kisah dalam sejarah yang menceritakan manusia-manusia tangguh seperti
itu. Manusia-manusia rabbany yang hidup menghiasi dunia untuk menebarkan
teladan dan kebaikan. Semua sahabat Rasulullah SAW. memiliki karakteristik
seperti itu. Begitu juga dengan salafuna ash-shalih dan juga generasi
setelahnya yang senantiasa berada dalam barisan keimanan dan barisan dakwah,
mereka merupakan profil manusia-manusia rabbany.

Mereka
tidak pernah terputus. Datang silih berganti meneruskan tugas suci yang telah dirintis.
Menebarkan teladan dan kebaikan. Menjadi telaga kehidupan bagi masyarakat yang
haus pancaran keimanan. Keberadaan mereka dirindukan banyak orang. Ketiadaan
mereka berarti sebuah kehilangan.

Dan
tentu saja, kita semua pun sangat berharap untuk menjadi bagian dari mereka.
Kita sangat menginginkan menjadi sosok manusia-manusia rabbany,
manusia-manusia yang berada dalam cinta dan ridha-Nya. Manusia yang memiliki
kecenderungan-kecenderungan rabbaniyyah dalam setiap kehidupannya.
Meskipun terkadang aktivitas kita sebenarnya masih terlalu jauh untuk
mendapatkan anugerah seperti itu.

Atau
mungkin saja kita sudah berusaha, dan banyak aktivitas ibadah yang kita
lakukan, akan tetapi kita masih saja merasakan sesuatu yang hambar dalam ruh
dan jiwa kita. Kita masih belum bisa merasakan kelezatan iman dan kekentalan ruhiyyah.
Kita masih merasakan sesuatu yang kurang dalam diri ini. Semacam kekeringan
hati atau perasaan datar terhadap aktivitas ibadah yang kita lakukan.

Yang
kita perlukan di sini adalah pemberdayaan hati. Karena hati adalah kunci dari
segalanya. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. "Ingatlah
dalam jasad manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka akan baik
seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasadnya. Itulah
hati."

Sosok
manusia rabbani memiliki kejernihan hati. Hati mereka tidak tertawan oleh
kehidupan dunia. Hati mereka tidak tergoda oleh gemerlap dunia. Hati mereka
tidak terkicuhkan oleh kesenangan nafsu yang menggelora. Ketika mereka berhasil
memberdayakan hati, maka aktivitas ibadah yang mereka lakukan betul-betul
menjadi supply energi keimanan bagi jiwa mereka. Ruhiyyah mereka
mengental dan hubungan mereka dengan Alah pun menjadi semakin menguat.

Semuanya
bermula dari hati. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
musnad
nya, Rasulullah SAW. Bersabda, "Demi Dzat yang diriku berada
di tanganNya, seseorang belum dikatakan berislam sebelum hatinya berserah
kepada Allah SWT".

Ada
hubungan yang sangat kuat antara hati dan fisik serta aktivitas kesehariannya.
Manusia rabbany bukan hanya orang yang senantiasa memenuhi
kewajiban-kewajibannya, melaksanakan ritual ibadah dan aktivitas-aktivitas
kebaikan lainnya. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, manusia rabbany
adalah manusia yang senantiasa menghayati ibadah-ibadah yang ia tunaikan. Ia
berusaha menjiwai setiap aktivitas kebaikan yang ia lakukan. Ia mampu merasakan
getaran keimanan ketika dan setelah selesai dari suatu amal shaleh. Seluruh
amalannya bersumber dari dua kekuatan: kekuatan ‘faham’ (kesadaran) dan
kekuatan ‘ikhlas’.

Perlu
latihan yang panjang (tarbiyah) untuk menuju ke arah sana. Perlu tadlhiyah
dan kesabaran untuk menggapai derajat rabbaniyyah seperti yang kita
harapkan. Dan perlu sebuah komunitas yang mendukung (suasana keislaman) yang
akan menjadi kontrol sosial dalam proses tersebut.

Dan
semuanya, tetap dibingkai dengan keoptimisan dan pengharapan yang tinggi kepada
Allah SWT. Seperti nasihat Nabi Yakub terhadap anak-anaknya, "Janganlah
kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhya yang berputus asa dari
rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir".
(Yusuf : 87)

Akhirnya,
penulis hanya bisa menutup tulisan ini dengan untaian sebuah doa; "Ya
Allah, Wahai Yang Membolak-balikan hati! Tetapkanlah hati kami dalam keta’atan
pada-Mu".Wallahu a’lam bishawab.

Konsultasi Agama (HARUS BACA)

Thursday, March 1st, 2007

Assalamu
‘Alaikum Wr. Wb.

Ust,
Ulyadi Lc, yang diberi amanah ilmu dan yang diangkat derajatnya oleh Allah ‘Azza
wa Jalla bi idznillah, Amiin
. Sekaligus yang ana hormati.

Sebelumnya, Ana adalah seorang Abdullah yang diselimuti akan
keragu-raguan. Adapun keragu-raguan itu, ketika ana jauh dari negaraku. Ana
merasakan keraguan yang begitu mendalam. Keraguan itu adalah sebulan sebelum
keberangkatan ana ke Mesir, ana telah ungkapkan rasa suka ana
kepada seorang muslimah yang menurut ana dan kakak ana, ia adalah
muslimah yang baik. Seminggu kemudian ana mendapatkan surat yang isinya,
ia (muslimah itu) telah memusyawarahkan dengan kedua orang tuanya dan kedua
orang tuanya merespon dengan baik (menyetujui hubungan ini menuju ke
pelaminan).

Tetapi setelah itu, ana keburu meninggalkan Indonesia, dan
belum menghitbah muslimah itu. Yang ana tanyakan, dzalimkah ana
dalam keadaan seperti ini? Dan bagaimna solusinya? Syukran jazilah atas
jawaban Ustadz.

Yang
rindu akan jawaban

Abdullah

 

Jawaban:

Akhil
karim
yang dimuliakan Allah SWT. Ana ucapkan terima
kasih atas kepercayaan dan do’a yang telah Akhi berikan. Sedikit ana
ingin mengklarifikasi bahwa ana belumlah bisa dikatakan orang berilmu. Ana
juga masih dalam tahap belajar seperti Akhi. Dan ana masih banyak
kekurangannya. Ya Allah jadikanlah hamba lebih baik dari apa yang mereka sangka
dan ampunilah hamba dari apa yang tidak mereka ketahui.

Mengenai
masalah Akhi, pertama sekali ana doakan semoga Allah
memudahkannya dan menghilangkan keragu-raguan yang ada dalam diri Akhi.

Sebagaimana
yang kita ketahui bersama, bahwa Islam adalah agama fitrah. Agama yang datang
sesuai dengan sunnah kauniyah yang Allah tetapkan di muka bumi. Salah
satu dari fitrah itu adalah ketertarikan seseorang kepada lawan jenisnya. Allah
SWT. berfirman yang artinya:

“Dihiaskan
kepada manusia berupa kecintaan syahwat kepada Wanita, anak, dan harta yang
berlimpah ruah” Q.S. Ali Imran: 14)

Islam datang bukanlah untuk mematikan fitrah. Akan tetapi Islam menyalurkannya
melalui cara-cara yang mulia dan mashlahat untuk manusia itu sendiri.
Untuk menyalurkan rasa ketertarikan pada lawan jenis misalnya, maka Islam
mensyariatkan nikah. Banyak mashlahat dan manfaat yang dapat diambil
melalui nikah. Di antaranya adalah menjaga keturunan yang jelas. Menumbuhkan
rasa tanggung jawab kedua pasangan terhadap keturunannya. Menumbuhkan rasa
kasih sayang dan kenyamanan antara kedua pasangan. Pembagian tugas dan
keteraturan dalam keluarga. Dan masih banyak manfaat yang lain yang tidak dapat
diraih tanpa menikah. Maka dari itu Allah mengutus para rasul dan menjadikan
bagi mereka isteri-isteri dan keturunan. Allah SWT berfirman:

"Dan
sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelum engkau dan Kami jadikan bagi
mereka isteri-isteri dan keturunan". (Q.S. Ar Ra’d: 38)

Yang Akhi
rasakan dalam diri Akhi tentulah berasal dari fitrah. Dan tentu itu
adalah suatu hal yang baik bila kita menyikapinya sesuai dengan tuntunan agama Islam
yang kita yakini. Semuanya kembali pada diri Akhi. Bila Akhi merasa
sudah siap secara mental dan materi untuk membina keluarga, maka segeralah
menghubungi orang tua Akhi dan meminta persetujuan mereka berdua
terhadap niat Akhi yang suci. Kalau orang tua Akhi sudah setuju
maka segeralah menghubungi keluarganya. Kemudian segera melakukan proses
sehingga tidak menimbulkan fitnah yang tidak baik. Namun bila Akhi belum
berkeinginan untuk membina keluarga pada saat sekarang, maka saran ana
hubungan Akhi dengan muslimahnya tidak bagus untuk dilanjutkan. Karena
itu akan menambah beban bagi Akhi dan baginya. Dan mungkin akan
mengganggu proses study Akhi di sini. Adapun ungkapan suka yang Akhi
sampaikan kepadanya belumlah menciptakan
hubungan apa-apa dalam pandangan Islam. Bila Akhi memilih yang pertama
maka melangkahlah dengan bismillah. Dan bila Akhi memilih yang
kedua maka bersabarlah dan yakinlah kepada Allah SWT. Kalau memang jodoh dia
tidak akan ke mana. Dan kalau dia bukan jodoh Akhi, insya Allah, Allah
akan ganti dengan yang lebih baik untuk diri Akhi. Ubai bin Kaab berkata
sebagai mana yang diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam AzZuhd :

"Tiadalah
dari seorang hamba yang meninggalkan sesuatu karena Allah melainkan Allah akan
menggatikannya dengan yang lebih baik tanpa dia kira".

TERBADAI (SASTRA)

Thursday, March 1st, 2007

Oleh : Rais Rahma Fathoni

Nama itu Magdi. 1 I’dadiah, usia 13 tahun.
Sudah 6 bulan, ayahnya, Sayyid, di-PHK dari sebuah PT. Sedang bundanya, hanyalah guru TK. 150 pound setiap bulannya.
Uang segitu mana cukup untuk menghela nafas. Belum si Ayah, pecandu rokok bak
asap kereta.

Akhir-akhir
ini ayah suka marah. Tanpa ada sebab yang jelas. Ayah juga suka
membesar-besarkan masalah. Tangan Magdi pernah disundut bara rokok, hanya
karena terlalu lama di kamar mandi. Memang kenapa sih kalau lama di kamar
mandi? Bukankah kamar mandi milik keluarga? Memang zaman sekarang ada pajak
kamar mandi?! Duh, ayah, lama-lama seperti orang depresi!

Belum
lagi kalau ayah sedang ribut dengan bunda, Magdi hanya bisa ngumpet di kolong
ranjang. Kadang ditampar, dipukul, atau dijambak. Pernah juga kerudung bunda
robek. Tak tega Magdi mendengar tangis getir bunda. Diam-diam, Magdi suka
melukis ayah di buku sekolah. Gambarnya mirip setan. Rambutnya gondrong, keluar
api dari mulutnya, ada tanduk dan sepasang taring gigi yang keluar. Magdi tahu
agama melarang ini. Tapi, puas rasanya bisa menggambar seperti itu.

*****

Blepak!! Seperti kilat menyambar di mata.

Magdi
mengaduh. Ayah mana peduli. Rasanya pegitu perih. Ditutupnya mata dengan
telapak tangan untuk sedikit mengurangi sakit. Ternyata darah! Mata Magdi
berdarah oleh pukulan ayah!

Langsung
Magdi pingsan tak sadar diri.

*****

Terpikir
akan dibawa ke rumah sakit. Ternyata hanya berbaring di balai reot, ruang tamu.
Ada bunda di sampingnya. Mata wanita itu sembab, tak banyak bicara. Namun getar
cintanya, sungguh dapat dirasa. Magdi hanya bisa menatap dengan satu mata.
Sebab mata yang berdarah ditutup perban. Kemana ayah? Magdi mencari. Iya, ayah.
Kemana dia? Memutar pandangan mencari sosoknya. Deg! Jantung Magdi
terdetak kencang. Dada membuncah. Rasa tak percaya, bercampur dendam.

Oh, ayah… Seperti tak terbetik rasa salah. Di sudut ruang, duduk santai
laksana raja bertahta. Mengisap rokok dalam-dalam.

Magdi
memenjam mata. Ada tangis di sudutnya. Dan perih di salah satu bolanya. Bunda
mengusap tangis dengan tangan yang berumur, namun masih lembut. Diraihnya
tangan keriput itu. "Ibu yang baik, izinkan aku pergi tinggalkan
rumah!"

Magdi
sadar, bunda laksana mendengar guntur. Petir yang menyambar dadanya. Setitik
demi setitik, tangis bunda pecah, dan menitik di wajah Magdi. Pundak tua itu
bergetar hebat menahan sesenggukan.

"Bagaimana,
Bunda?" tanya Magdi. Cukup perih.

"Anak
yang kucinta, Bunda tak memiliki pilihan. Apalagi engkau lelaki. Tahukah
Engkau? Tapi aku diguncang badai."

"Tenanglah,
Bunda." Terang Magdi menenangkan. "Aku akan baik-baik saja. Sebab di
jalanan sana, orang baik ada di mana-mana."

Krengkeeeet…. Suara pintu rumah. Ayah keluar. Entah ke mana. Aiiihhh, masihkah
ada nurani di dadanya. Gelap mata Magdi melihatnya. tak perlu banyak bicara,
langsung loncat dari balai. Diciumnya tangan bunda. Dengan pakaian yang
selembar ini, akan menapaki jalanan tanpa ujung!

"Ma’assalamah,
Bunda! Teriaknya sebelum menutup daun pintu. Dan terlihat tubuh bunda bergetar
hebat.

*****

Masih
jauh hari menuju terang. Remang-remang pekat malam. Mencari setitik terang pada
lampu neon peron stasiun. Menelusuri jejak panjang rel kereta. Terlalu jauh
terhempas kehidupan. Menghirup dalam nafas tanpa rasa, hanya memenuhi rongga,
lantas hilang begitu saja.

Seperti
ini ternyata rasa jalanan. Sudah satu minggu Magdi menyeret langkah tanpa arah.
Tak adakah yang tahu, akan ia yang belum makan dari kemarin pagi. Terpaksa
meneguk air-air masjid atau kran pinggir jalan. Magdi tahu tentang indahnya
jalan pulang. Tapi, ah, tak perlu dikenang lagi.

Kembali
matanya sukar mengatup. Lapar merayap hingga ubun-ubun. Ditariknya badan hilang
tenaga itu. Ke mana ia mencari orang baik di kebutaan malam seperti ini?
Nalarnya telah pingsan. Magdi melangkah, "mungkin masjid lag"i,
batinnya.

Terbelalak
Magdi sampai di masjid. Pintu tutup. Tak kuat lagi ia menopang tubuh, apalagi
melangkah. Dirobohkan badan pada pintu masjid yang rapat itu. Menyebut satu
harapan: Usturna ya Rabb…begitu pelan, setengah membisik.

*****

Terjengkang
Magdi saat pintu masjid di buka, jam setengah lima pagi. Subuh sebentar lagi
menyapa. Berarti, penuh sudah, sehari semalam tanpa makan. Mencari ia tempat
wudhu, lama-lama berada di sana. Minum, mengurangi lapar. Cuci muka, basahi
rambut, supaya makin segar.

Hingga
adzan menggema, ia masih di situ. Adzan Subuh yang syahdu, tak terasa hangat
menyelimuti kelopaknya. “Bunda…inti fien?” Kembali ia merajuk pada
wanita terindah dalam hidupnya. Kerinduan berpadu kemalangan. Dan matanya
berair-air.

Terdengar
bunyi sandal terseret, bergegas disapu air mata itu. Buru-burunya berwudhu.
Menghilangkan bekas kesedihan. Dan berharap pada Sang Maha: "Rabb
hamba lapar”. Air matanya masih menderai, bercampur basuhan wudhu. 

*****

“Pak,
tolonglah saya, izinkan saya tinggal barang sekejap. Saya tak ada tempat
tinggal.” Penjaga masjid yang diajak bicara diam saja. Bapak itu tak bergeming.
“Pak…”, kembali Magdi merengek, “Tolonglah.”

“Heh!
Bukankah sudah aku bilang mesjid ini harus ditutup, dan kamu, harus keluar!
Cepat, aku hendak tidur lagi!”, diseretnya Magdi. “Lepas!”, berontak Magdi.
“Aku bisa jalan sendiri. Tak perlu kau seret-seret seperti ini.”

Bllaammm!! Pintu masjid ditutup. Begitu menggelegar. Remuk pula prinsip Magdi. Dahulu
ia yakin, ‘orang baik ada di mana-mana’. Sedang sekarang, ia pun begitu yakin,
‘orang jahat juga ada di mana-mana’.

Aiih, ada orang juga di luar masjid. Di bawah terang lampu neon. Membaca
Qur’an, terdengar surah Kahfi. Surah yang sudah Magdi hafal. Lekat
dipandangnya orang itu, berkaca mata. Ajnabi! Ingin benar Magdi bercakap
dengan ajnabi.

“Ismak
eiy?”
Cuek saja ajnabi ini, terus tilawah. Memang susah
kadang memulai bicara dengan ajnabi. Diam pula Magdi di sampingnya. Dari
mana ia harus mulai kata perkenalan? Tanpa sadar Magdi menirukan tilawah si ajnabi.

Terbengong
si ajnabi. “Kamu hapal Kahfi?” matanya tak berkedip.

Magdi
mengangguk, dan meneruskan ayat yang baru saja dibaca ajnabi. 

“Ismak
eiy?”
sekarang ganti ajnabi yang bertanya. “Magdi, kamu siapa?”

“Abduh.”
Jawab si ajnabi.

“Abduh,
nama yang bagus. Mea-mea.” Magdi mengulurkan tangannya. Kening Abduh
berkerut. Tak paham akan ingin Magdi. “Mulai sekarang,” kata Magdi, “Kita
kawan.” Ooo, pahamlah Abduh dengan maksud Magdi. Abduh mengangguk.
Menyambut tangan Magdi dengan tangannya, “Sahabat!!”

“Inginkah
kau dengar keluhanku?” tanya Magdi. Abduh belum sempat menjawab, tapi Magdi
meneruskan katanya. “Saya belum makan sedari kemarin pagi.”

Pahit
dan perih sekali kerongkongan Abduh mendengar keterangan itu.

“Saya
pergi dari rumah. Ada masalah dengan ayah. Ayah kejam. Suka menyiksa. Saya tak
betah

tinggal di rumah. Maukah kau
menampungku sementara waktu?”

Mendetak
kencang jantung Abduh. “Jangan konyol, kau!!”

“Kenapa?!,”
suara Magdi setengah meninggi, “Bukankah kita sahabat?!”

“Kita
berbeda kebiasaan. Kita tidak sama.”

“Aku
bisa membantumu menyapu, mengepel, mencuci. Tanpa akan meminta bayaran. Cukup
aku bisa makan dan tidur saja. Aku juga tak perlu tempat tidur. Aku boleh tidur
di mana saja serelamu.”

“Magdi,
aku bisa memahamimu. Aku pun bisa menerimamu. Tapi teman-temanku…”

“Kenapa
dengan teman-temanmu, Abduh? Aku tak mungkin mencuri!!”

Panjang
nafas Abduh berhembus. Apa maksud ini ya Rabb…

“Abduh,
belum kau jawab, kenapa dengan teman-temanmu itu?”

“Kau
harus tahu, kita berbeda dalam banyak hal, Magdi.”

“Jadi
kau tidak menerimaku?! Begitu bukan maksudmu?!,” Magdi beranjak dari duduknya.
Memilih tempat lain. “Pergilah, dan tak ada kata kawan!”

“Magdi…
bukan itu.”

“Tak
perlu bicara lagi. Sebenarnya, kau mau menampungku atau tidak?!”

Abduh
tak menjawab. Dibukanya lagi mushaf. Diteruskan kembali tilawah surah Kahfi.
Sedangkan Magdi, melipat kakinya., menyandarkan dua sikunya pada lutut.
Dan lama menenggelamkan muka di sana.

Selesai
tilawah, “Magdi, jika kau hendak ikut aku, kau harus siap menghadapi perbedaan.
Itu saja

pesanku.”
Mata Magdi berbinar. Mengangguk.
 

*****

Dan
satu minggu setelah itu,

Bllaaarrr!!
Blarrrr!! Blarrrr!!
Suara pintu rumah digedor dengan kurang
sopannya. Abduh yang membuka pintu. Didapatinya dibalik daun pintu itu, dua
orang Mesir tinggi besar.

“Mana
Abduh?!” Suaranya menggelegar. Berputar pikiran Abduh. Kenapa mencari saya?
Ada kehawatiran memompa kencang detak jantungnya. Gagap Abduh berkata: “Say-yaa

sen-dii-ri.
A-da y-yang bi-sa di-bantu…?!” Seorang darinya mengeluarkan kartu tanda
pengenal. Polisi! Aiihh, apa pula ini?! "Kau, Abduh, tersangka
kasus penculikan! Lekas ikut kami ke kantor!!"

Keringat dingin Abduh
mendengarnya. Serasa langit robek-robek oleh suara itu
q

 

 

 

ZAINAB AL- GHAZALI (TOKOH)

Thursday, March 1st, 2007

Oleh : Andrean

 2 Januari 1917,
di wilayah Al Buhairah, lahirlah sesosok bayi perempuan yang kelak akan menjadi
ummul mujahidah terkemuka. Dari keluarga yang berpegang teguh pada Al Quran
dan As Sunah, beliau dinamakan Zainab Al Ghazali Al Zubaily. Ayahnya seorang
ulama Al Azhar yang berpengaruh. Sejak kecil ia sudah menjalani proses tarbiyah
rabbani
. Saat berumur sepuluh tahun, sang ayah berpulang ke rahmatullah.
Mengajarkannya untuk tetap tegar dan ridha pada setiap ketentuan Allah. Kemudian
beliau dibawa ke Kairo.

Di Kairo jiwanya bergelora untuk berperan aktif dalam
bidang kemasyarakatan. Sampai akhirnya beliau terlibat dalam organisasi wanita
liberal di bawah pimpinan Huda Syaarawi. Kembali Allah menguji kesabarannya dengan
penyakit kronis yang harus dideritanya. Pada saat itulah beliau tersadar dari
kesia-siaan apa yang telah dilakukannya. Beliau pun memohon kepada Allah atas keluasan
rahmatNya dan berjanji akan meninggalkan organisasi liberal tersebut. Rahmat
Allah pun meliputinya dan penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Beliau pun mulai
merintis sebuah organisasi wanita sebagai ungkapan rasa syukur dan pemenuhan
janjinya. Pada tahun 1937 organisasi itu berdiri yang mempunyai visi untuk
mendidik wanita muslim dan memberi bantuan kepada anggota keluarga muslim yang
membutuhkan. Pada tahun yang sama, beliau sering berdiskusi dengan Imam Ass
Syahid Hassan Al Banna. Kemudian organisasinya menjadi salah satu cabang
pergerakan Ikhwanul Muslimun. Kekuatan dan perkembangan organisasi muslimah
tersebut meningkat berkat usaha dan perjuangan beliau yang berkesinambungan.
Hal itu terlihat dengan banyaknya wanita Islam di Mesir yang bergabung
dengannya. Mereka ditaburi benih-benih keimanan dan perjuangan di dalam jiwa
mereka.

Di antara mereka yang dekat hubungan dengannya adalah dua
saudari Sayid Qutb yaitu Aminah Qutb dan Hamidah Qutb, Halidah Hasan Al Hudaiby,
Al Hayyah Sulaiman Al Zubair, Fatiraah Al Fath, Aminah Al Jauhaty dan
lain-lain. Ketegarannya membuat Presiden Gamal Abdul Naser memintanya agar
memimpin sayap wanita Partai Sosialis, akan tetapi beliau menolaknya. Keengganannya
menyebabkan Presiden mengeluarkan instruksi agar organisasi muslimah yang
dipimpinnya dibekukan dan segala penerbitannya dihentikan. Beliau lalu
ditangkap pada agustus 1965 dan dijebloskan ke penjara selama enam tahun dengan
berbagai siksaannya. Mari kita menghayati apa yang beliau ceritakan ketika
berada di penjara di dalam bukunya Ayyam Min Hayati. Pada agustus 1965
rumahnya digeledah oleh beberapa tentara tanpa izin. Saat beliau meminta surat
penggeledahan, mereka menjawab, "Surat tugas yang mana, hai Orang Gila,
kami sekarang dalam masa di mana kami bebas melakukan apa saja yang kami
kehendaki terhadap kalian.” Dan tanpa bukti mereka menyeret beliau keluar
rumah dan membawanya pergi. Tanpa persidangan dan pembelaan, beliau dijebloskan
ke penjara. Beliau tetap sabar dan mengharap pahala dari Allah atas ujian yang
diterimanya. Beliau dimasukan ke penjara no 24. Beliau menceritakan, ”Sebuah pintu
ruangan yang sangat gelap dibuka, lalu aku dimasukan ke dalamnya, aku lalu mengucakan
”Bissmillah Assalualaikum”, kemudian pintu itu ditutup kembali, lalu lampu
yang sangat terang dinyalakan dengan tiba tiba untuk menyiksa diriku, ruangan
itu dipenuhi oleh anjing-anjing yang lapar. Aku tidak mengetahui persis berapa
jumlahnya. Anjing-anjing itu langsung menyerangku dan menggigit sekujur tubuhku.
Kurasakan tusukan-tusukan taring anjing-anjing itu, sakit sekali. Kala kumencoba
membuka mata untuk melihat, maka dengan segera kupejamkan kembali karena
ketakutan yang sangat mencekam. Kemudian kuletakan kedua tanganku di bawah
kedua ketiakku sambil menyebut Asma Allah mulai dari, ”Ya Allah, Ya
Allah…” Satu persatu nama Allah kubaca, sementara anjing-anjing itu tiada
henti menggigitku. Aku berdoa kepada Allah dengan mengatakan, ”Ya Allah sibukkanlah
diriku dengan mengingatmu, wahai Tuhanku, wahai Dzat yang Maha Esa, wahai Dzat yang
menjadi tempat bergantung, bawalah aku dari alam kasar ini, sibukkanlah aku
agar tidak mengingat seluruh hal selainMu, sibukanlah aku dengan mengingatMu,
bawalah aku ke hadiratMu, berilah ketenangan yang sempurna dariMu, liputilah
aku dengan pakaian kecintaanMu, berikanlah rezki mati syahid di jalanMu,
karuniakanlah keteguhan sebagaimana keteguhan yang dimiliki oleh para ahli
tauhid, ya Allah”. Doa tersebut kuucapkan dengan lirih. Detik demi detik, menit
demi menit, jam demi jam pun berlalu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu aku
dikeluarkan dari kamar yang sangat pengap dan mencekam tersebut. Aku membayangkan
bahwa pakaian putih yang kukenakan telah
berlumuran darah, itulah yang kurasakan dan kubayangkan bahwa anjing-anjing itu
telah menggigitku, namun ternyata pakaianku tidak terkena sesuatu apapun dan
seolah-olah tiada satupun taring yang menembus tubuhku Maha Suci Engkau ya
Allah. Sesungguhnya Dia selalu bersamaku dan selalu mengawasiku. Ya Allah, apakah
aku ini layak mendapatkan karunia dan kemuliaan darimu? Ya Tuhanku bagimu
segala puji semua itu kuucapkan di dalam hati. Para sipir terperangah dan
terheran-heran ketika mengetahui bahwa anjing-anjing itu tidak merobek-robek
tubuhku Saya tidak mengetahui mengapa mereka amat terheran-heran menyaksikan
hal seperti itu. Bukankah Allah telah berfirman ”Hai orang-orang yang beriman
jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu" Muhammad: 7.

NIKAH DINI (REPORTASE)

Thursday, March 1st, 2007

Sebuah nama yang lahir dari komitmen moral dan keilmuan yang
sangat kuat, sebagai sebuah solusi alternative setidaknya menurut penawaran
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono pada tahun 1983, melalui tulisannya berjudul Bagai­mana Kalau Kita Galakkan Perkawinan Remaja?
Ketika fitnah syahwat kian tak terkendali, ketika seks pra nikah semakin
merajalela, terutama yang dilakukan oleh kaum muda yang masih duduk di bangku
sekolah.Tapi sederet pertanyaan dan kekhawatiran pun muncul. Nikah di usia
remaja, mungkinkah? Siapkah mental dan materinya? Bagai­mana respon masya­rakat?
Apa tidak meng­ganggu sekolah? Dan masih banyak sederet pertanyaan lainnya.

Maka sekarang akan kita simak apa penuturan para mahasiswa Al-Azhar
Zagazig dan Tafahna yang berhasil diliput oleh krew muara mengenai oponi
merekadalam  nikah di masa kuliah atau
sering di sebut dengan Nikah Dini.

Ust.Doni (Mahasiswa Al Azhar Zagazig, pakultas Usuluddin
tingkat 4
)

Apa pandangan anda mengenai nikah di usia muda?

Nikah di usia muda akan menjadi solulsi prastis jika orang
yang bersangkutan telah terjerumus kedalam pergaulan bebas yang akhirnya masuk
ke dunia sex bebas,maka tidak ada jalan lain selain nikah dini, kenapa
demikian, karena kalau tidak, akan mencoreng nama baik keluarga mereka
masing-masing terkhusus keluarga si wanita,yang kelihatan jelas perubahan yang
terjadi pada anaknya. namun jika kiranya bisa menjauhi pergaulan bebas dan bisa
menahan pandangan dan shahwatnya maka nikah dini bukan satu-satunya solusi
untuk di lakukan karena nikah memerlukan persiapan yang benar-benar matang, baik
meteri maupun kedewasaan dan anak yang masih belia jarang sekali yang mempunyai
persiapan itu, alangkah baiknya kalau nikah dipersiapkan sedemikian rupa,dan sekiranya
belum siap untuk nikah janga terburu buru.

Menurut anda nikah sambil kuliah itu bagaimana?

Sebenaranya sih tergantung individu masing-masing,soalnya
ada yang mendapatkan jati dirinya itu setelah nikah, bahkan ada yang tadinya ga
pernah naik kelas setelah nikah malah mendapatkan nilai mumtaz, berarti
kan nikah membawa barokah, namum adapula setelah nikah malah berantakan
keluarganya, dan hampir tiap hari bertengkar,itu nikahnya membawa musibah jadi nikah
sambil kuliah itu relative tergantung orang yang melaksanakannya. tapi kalo
menurut saya pribadi sih  syah syah saja dengan
alasan bahwa dengan nikah akan banyak pelajaran yang di dapat, seperti belajar
menjadi patner yang baik, ayah yang bijak, pemimpin yang adil dan banyak
lagi hal hal positif yang bisa diraih setelah nikah.

Apa alasan anda belum nikah?

Tentunya saya punya argument tentang mengapa sampai saat ini
belum nikah, yaitu selama bisa menahan untuk menunda dulu penikahan akan saya
tahan terlebih dahulu dan bukanya saya tidak yakin akan rizki yang akan
diberikan Allah pada orang yang menikah namum saya ingin fokus dulu kepada
belajar sambil mempersiapkan diri menjadi calon suami yang soleh supaya
diperkenankan mendapat istri yang solehah pula,Amiin.  

Adakah pesan anda bagi teman-teman yang takut terjerumus
kepada sex bebas tapi tidak mampu nikah?

Oooh masalah itu…baiklah bagi anda yang belum mampu nikah
tapi takut terjerumus kepada sex bebas saya punya trik khusus untuk
menanggulangi masalah itu, diantaranya dengan:

Perkuat iman, banyak bepuasa, sering-sering berolah raga
paling tidak keluar keringat, hindarkan dari piktor (pikiran kotor), dan jaga
pandangan.insyaallah manjur

 

Ust. Irham Hasan Cahyadi (Mahasiswa Al-Azhar Zagazig,
Pakultas Usuluddin Tingkat 2)

 

Bagaimana pandangan anda mengenai
pernikahan dini?

Pernikahan dini merupakan hal positif
dan bagus kalau kita sudah siap mental dan kepribadian , bahkan justeru bisa
menjadi motivasi untuk meraih puncak prestasi yang lebih cemerlang (seperti
tertera sederet nama orang sukses yang melakukan pernikahan dini). Selain itu,
menurut bukti-bukti (bukan hanya sekedar teori) psikologis, pernikahan dini
juga sangat baik untuk pertumbuhan emosi dan mental, sehingga kita akan lebih
mungkin mencapai kematangan yang puncak (Muhammad Fauzil Adhim, Indahnya
Pernikahan Dini
, 2002). Bahkan menurut Abraham M. Maslow, pendiri psikologi
humanistik yang menikah di usia 20 tahun, orang yang menikah di usia dini lebih
mungkin mencapai taraf aktualisasi diri lebih cepat dan lebih sempurna
dibanding dengan mereka yang selalu menunda pernikahan. Pernikahan yang
sebenarnya, menurut M. Maslow, dimulai dari saat menikah. Pernikahan akan
mematangkan seseorang sekaligus memenuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan
psikologis manusia, yang pada gilirannya akan menjadikan manusia yang mampu
mencapai puncak pertumbuhan kepribadian yang mengesankan. Maka kalau di tinjau
dari kacamata psikologi, pernikahan dini lebih dari sekedar alternatif dari
sebuah musibah yang sedang mengancam kaum remaja, tapi ia adalah motivator
untuk melejitkan potensi diri dalam segala aspek positif. namum kalau belum
siap untuk nikah hendaknya diadakan persiapan yang matang terlebih dahulu dari pada
malah menambah masalah setelah menikah.maka kuatkan niat insyaallah akan ada
jalan keluar, janganlah nikah di jadikan sebagai pemuas sex saja namun banyak
hal yang dapat diraih dalam pernikahan.

Nikah sambil kuliah menurut anda
bagaimana?

Kalau masalah itu kembali kepada
individu masing-masing, Dari sisi psikologis, memang wajar kalau banyak yang
merasa khawatir: bahwa pernikahan di usia muda akan menghambat studi atau
rentan konflik yang berujung perceraian, karena kekurangsiapan mental dari
kedua pasangan yang masih belum dewasa betul. Hal ini terbaca jelas dalam
senetron Pernikahan Dini yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun
televisi. Beralasan memang, bahwa mental dan kedewasaan lebih berarti dari
sekedar materi, untuk menciptakan sebuah rumah tangga yang sakinah,
seperti yang diilustrasikan oleh senetron tersebut, namun sebenarnya nikah
sambil kuliah bukan sebagai alasan rumah tangga tidak harmonis, justru dengan
nikah akan dipermudah semua urusan yang ada.

Kenapa anda belum nikah?

Adapun alasan saya belum nikah bukan
berarti belum siap tapi karena calon istri saya tidak mau di bawa ke mesir dan
sekarang masih sekolah, jadi tidak memungkinkan saya untuk nikah sekarang,
makanya itu saya jadikan motivasi untuk selalu belajar giat supaya cepat pulang
dan cepat nikah, dan moto saya " dengan nikah akan dipermudah segala
urusan
" makanya setelah pulang saya akan nikah dulu baru kerja karena
yakin Allah akan mempermudah orang yang menikah  seperti sabda Rosulullah barangsiapa ingin
kaya maka nikahlah. Dan saya berpesan bagi rekan-rekan semua:

· Kalo sudah siap jangan menunda-nunda pernikahan

· Jangan takut susah kalau nikah

· Siapa yang ingin kaya maka nikahlah

· Kedewasaan akan timbul dengan nikah

· Nikah akan menjauhkan kita dari maksiat syahwat

· Ust.Agus dan Ust. Rusnan bisa kenapa kita tidak

 

 

Ust.Masturi (Mahasiswa Al-Azhar Tafahna El-Asyrof
pakultas Syari’ah)

 

Bagaimana
Pernikahan dini dalam pandangan antum?

Sebenarnya, pernikahan dini dalam persepsi kita itu
berawal dari kekhawatiran dan kecemasan yang melanda remaja Indonesia khususnya
dan remaja muslim pada umumnya dengan adanya pergaulan bebas yang diakhiri dengan
sex bebas.dan ini semua dinahkodai oleh peradaban barat yang begitu bebas masuk
ke Indonesia sehingga para remaja kita terkontaminasi oleh gaya hidup
mereka, disamping itu juga pelajaran agama di sekolah sangat kurang padahal
setidaknya itu harapan satu-satunya yang bisa di jadikan sebagai filter bagi
para remaja, maka itulah PR kita semua dalam menangulangi masalah diatas. Maka
nikah dini merupakan salah satu solusi yang dapat diandalkan untuk mengatasi
masalah yang ada.seperti yang sabdakan Nabi Muhammad SAW:

Wahai para pemuda,
barang siapa di antara kalian telah mencapai baah, maka nikahlah. Karena
sesungguhnya nikah lebih bisa menjaga pada pandangan mata dan lebih menjaga
kemaluan. Bila tidak mampu melaksanakannya maka berpuasalah karena puasa baginya
adalah kendali (dari gairah seksual)
(HR. Imam yang

lima

).

Hadits di atas dengan
jelas dialamatkan kepada syabab (pemuda). Siapakah syabab itu?
Mengapa kepada syabab? Menurut mayoritas ulama, syabab adalah
orang yang telah mencapai aqil baligh dan usianya belum mencapai tiga
puluh tahun. Aqil baligh bisa ditandai dengan mimpi basah (ihtilam)
atau masturbasi (haid bagi wanita) atau telah mencapai usia

lima

belas tahun.

Ada

apa dengan syabab?
Maka menarik untuk diperhatikan sabda Rosul ini.

Salah satu faktor
dominan yang sering membuat kita terkadang takut melangkah adalah kesiapan dari
sisi ekonomi. Ini memang wajar. Tapi sebagai hamba yang beriman, sebenarnya, kita
tak perlu risih dengan urusan yang begitu krusial dalam sebuah rumah tangga
ini. Bukankah Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya yang mau menikah, seperti
yang tersirat dalam surat al-Nur ayat 32 yang artinya, dan jika mereka
miskin maka Allah akan membuatnya kaya dengan karunia-Nya
Bukankah
Rasul-Nya juga menjamin kita dengan sabdanya, Barang siapa yang ingin kaya,
maka kawinlah

Dan apabila kita belum
siap nikah tapi takut terjerumus kedalam kemaksiatan syahwat maka hendaklah
kita mempertebal iman, mengurangi tontonan cabul, mengurangi bergaula dengan
lawan jenis,

Apa alasan antum
belum nikah?

Alasan saya kenapa
belum nikah karena melihat kondisi finensial yang belum stabil, terlebih saya
masih ingin mencari pasangan hidup yang benar-benar paham akan keadaan
saya,soalnya dia akan menjadi generator saya nantinya, dan masih ingin
membahagiakan orang tua dulu, pasalnya
mereka kangen akan kepulangan saya.

Adapun pesan saya
kepada temen-temen semua:

Luruskan niat dalam nikah hanya untuk mendapat ridho Allah
semata, cari pasangan yang sesuai dengan hati, utamakan memilih calon istri
yang bagus agamanya, usahakan solat istikhoroh, berusaha perbaikan diri menuju insan
kamil. Cari istri yang bisa saling memahami, menerima, dan melengkapi.