koleksi-tv-indonesia-online-terlengkap dan uptudate

November 6th, 2008 by fauzanrizki

Kini sudah ada web yang berisi koleksi tv indonesia Lengkap secara
online, dimana itu ? temen-temen bisa ngakses tv di
http://www.fosmagati.com ada beberapa channel yang disediakan disana,
antara lain TV One, aljazeera, tvri, rcti, sctv, transtv, trans7, tpi,
metro tv, jakTV, dan siaran televisi lainnya.

Selain itu anda bisa ngobrol plus request TV di website, kalau ada
yang menyediakan servernya Insya Allah nanti saya bisa masukan ke web.

Website ini tidak bersifat bisnis, murni ingin memberikan hal baik
kepada kawan-kawan semua dan hanya bersifat kolektor saja agar
memudahkan para user yang kangen atau hanya sekedar ingin menikmati TV
Indonesia secara online.

http://www.fosmagati.com buah KARYA ISENG WARGA CIREBON DI MESIR. Daan
tunggu koleksi TV-TV bagus lainnya…. ikuti terus perkembanganya.

Akhir Kata:
Khairunnas Anfauhum Linnas…. SEMOGA BISA BERMANFAAT DAN BERNILAI
IBADAH.

M Hasbi, Lc

KOLEKSI TV INDONESIA ONLINE TERLENGKAP + UPTUDATE

November 6th, 2008 by fauzanrizki

Kini sudah ada web yang berisi koleksi tv indonesia Lengkap secara
online, dimana itu ? temen-temen bisa ngakses tv di
http://www.fosmagat i.com ada beberapa channel yang disediakan disana,
antara lain TV One, aljazeera, tvri, rcti, sctv, transtv, trans7, tpi,
metro tv, jakTV, dan siaran televisi lainnya.

Selain itu anda bisa ngobrol plus request TV di website, kalau ada
yang menyediakan servernya Insya Allah nanti saya bisa masukan ke web.

Website ini tidak bersifat bisnis, murni ingin memberikan hal baik
kepada kawan-kawan semua dan hanya bersifat kolektor saja agar
memudahkan para user yang kangen atau hanya sekedar ingin menikmati TV
Indonesia secara online.

http://www.fosmagat i.com buah KARYA ISENG WARGA CIREBON DI MESIR. Daan
tunggu koleksi TV-TV bagus lainnya…. ikuti terus perkembanganya.

Akhir Kata:
Khairunnas Anfauhum Linnas…. SEMOGA BISA BERMANFAAT DAN BERNILAI
IBADAH.

M Hasbi, Lc

ZAHRAH TAFASIR KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD ABU ZAHRA

September 29th, 2008 by fauzanrizki
ZAHRAH TAFASIR KARANGAN SYAIKH MUHAMMAD ABU ZAHRA
Dicetak Oleh Daarul Annasyar
Jumlah Jilid: 10 Jilid

Kitab tafsir ini pertama kali dicetak oleh Maktabah Waqfiyah kemudian dipindah keseluruhannya dengan tujuan mentashih segala ayat-ayat quran yang salah cetak sebelumnya ( Comment by. M Hasbi)

Downlaod Disini


Photo.
Syaikh Muhammad Abu Zahra

Sikap Adil Kepada FPI

June 6th, 2008 by fauzanrizki

Oleh Abu Muhammad Waskito *)

 Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh sebagian aktivis Front
Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang menamakan diri
sebagai aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB).

TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para aktivis FPI terhadap
massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung Ahmadiyyah. Disana ada
aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas sound system,
kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat prihatin melihatnya.
 

Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon. Melalui jubir
kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi anarkhis aktifis FPI
di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung, disiarkan TV-TV, bahwa
dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku kekerasan ditindak
secara hukum. SBY juga menekankan, "Negara kita Negara hukum." Gayung
bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku kekerasan di Monas.

MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas itu (Republika, 2
Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyyah, setelah
pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din tidak menuntut FPI
dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika Pemerintah ingin
membubarkan FPI (www.jawapos. co.id, 2 Juni 2008). Arbi Sanit, pakar
politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan karena mengancam
kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP Anshor, Malik
Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, kalau pemerintah tidak tegas.
Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan sempat terjadi
keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh pemuda-pemuda tersebut
(berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008).

Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan. Sebelumnya juga
bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan aksi-aksi nahi
munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah kita menghukum FPI
sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan)pasca kasus
kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani melihat masalahnya
secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi.

Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan dalam kasus di
atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara cermat, sehingga kita
bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau tidak?

Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Winarko,
beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka mulanya hanya berencana
berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB beraksi sampai ke
Monas. "Ternyata, mereka menuju Monas juga," kata Kombes Heru Winarko
(Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, "Bentrokan Akibat Pemerintah
Lamban," hal. 1).

Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar hukum. Mereka
melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak kepolisian. Jika mereka
beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut tidak perlu
terjadi.

Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di GlobalTV siang hari,
disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di Monas tersebut. Pada
mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah satu lokasi Monas
sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa TOA. Mereka kadang
bertakbir dan juga membaca kalimat "Laa ilaha illa Allah".

Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang siapapun. Aksi
mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai timbul masalah ketika
AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system kuat, tidak jauh dari
lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung Ahmadiyyah, di sisi
lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI. Anda bisa
bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat
telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin
perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi
oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak awal untuk berbuat
kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib.

Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, "AKKBB harus mawas diri,
menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU, Muhammadiyyah, sampai
ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga dengan FPI, tidak
usah terprovokasi, ini bahaya benar." (Republika, 3 Juni 2008).

Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana terlihat dengan
jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras menertibkan para
aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan, tendangan, menenangkan
aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian pemuda aktivis FPI
mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak mampu mencegah
secara keseluruhan.

Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau
perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa
disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah
terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya mendamaikan, saya yakin akan
jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam kasus tersebut,
menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu mencegah aksi-aksi
individu yang terlanjur terjadi.

Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita harus jujur
mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha mencegah kekerasan
itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak kepolisian sering
berdalih, "Petugas polisi kan manusia juga." Polisi bisa khilaf,
melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu pula dengan kasus
para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada instruksi kekerasan,
tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi.

Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas ditindak secara hukum,
tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu berbeda konteksnya.
Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh -sebut saja- oknum aktivis
FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk
menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus kekerasan oleh
oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus
kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk
membubarkan lembaga Polri.

Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian warga Muhammadiyyah
-misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi "bola liar" untuk
membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan oleh oknum tetap
dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi.

Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari lima tersangka kasus
di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan sebagai lembaga FPI
secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah individual case, bukan
organization case. Kalau setiap kasus individu bisa menjadi dalih untuk
membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji SBY yang katanya
tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa dijadikan dalih
untuk membubarkan kabinetnya.

Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme di Monas atas nama
"negara hukum", dia telah menggunakan dalil yang benar. Tetapi
seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah. Bukankah penanganan
kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur hukum? Disana ada
Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi Depertemen Agama RI,
rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi kepala-kepala daerah
tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat "Negara hukum"? Mengapa
SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah hukum berlaku bagi
FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi tentang kesesatan
Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan Buyung Nasution,
selaku anggota Watimpres, apakah hal itu juga memenuhi keadilan hukum?
Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Watimpres bisa
mengintervensi kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam AKKBB
yang melakukan aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah
disepakati sesat oleh Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi
di bawah Kabinet SBY?

Jadi kesan yang muncul, istilah "negara hukum" itu hanya dipakai untuk
mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok lain, konsep ketegasan
hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan Buyung Nasution, dia
bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas Islam dalam kasus
Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai "profesional hukum" ketika
membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya hanya sekedar
"kuda tunggangan" belaka.

Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual, emosi, mengutuk,
dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli peserta aksi AKKBB.
"Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris sembilu," begitulah
kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati kekerasan ini.

Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam ketika Ahmadiyyah
terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita terketuk hati ketika
ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia mendakwakan diri
sebagai Al Masih, sebagai Al Mahdi, dan mengajarkan kitab At Tadzkirah
sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika ajaran-ajaran Islam
dilecehkan oleh orang-orang itu?

Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, atau sedih, apalah
artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan yang menimpa
Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan Islam? Dan
sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu, demikian mudahnya
dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah).
Sebagai seorang Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan
Rasulullah dan Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban, sehingga
atas hidayah Allah saat ini kita menjadi Muslim?

Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan oleh kaum
Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah ‘alaih. Bukan
berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa dibenarkan, sebab
bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada tindakan rakyatnya
sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan kepada kaum Ahmadiy
membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mulai
mendakwahkan Islam di masa lalu.

Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun pelakunya. Tetapi
dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat secara jernih dan
adil. Jangan karena sentimen, atau sudah "kadung kesal" dengan FPI, lalu
kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta’ala tetap memerintahkan agar kita
selalu berbuat adil. "Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum,
membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah, sebab adil itu
lebih dekat kepada taqwa." (Al Maa’idah: 8).
Wallahu a’lam bisshawaab.

Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)

June 6th, 2008 by fauzanrizki
 

 Nama
Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)
menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari
ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali
diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah,
sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab
suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan
Rasulullah Muhammad SAW.

Jika menilik perjalanan historis
dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa
ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam,
pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka
terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.

 

Ketika
Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar
umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan
mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali
perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri
dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan
sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya
mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.

 

Bagaimana
dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga
swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk
kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

  • Indonesian      Conference on Religion and Peace (ICRP)
  • National      Integration Movement (IIM)
  • The Wahid Institute
  • Kontras
  • LBH Jakarta
  • Jaingan Islam      Kampus (JIK)
  • Jaringan Islam      Liberal (JIL)
  • Lembaga Studi      Agama dan Filsafat (LSAF)
  • Generasi Muda      Antar Iman (GMAI)
  • Institut      Dian/Interfidei
  • Masyarakat Dialog      Antar Agama
  • Komunitas      Jatimulya
  • eLSAM
  • Lakpesdam NU
  • YLBHI
  • Aliansi Nasional      Bhineka Tunggal Ika
  • Lembaga Kajian      Agama dan Jender
  • Pusaka Padang
  • Yayasan Tunas      Muda Indonesia
  • Konferensi      Waligereja Indonesia      (KWI)
  • Crisis Center GKI
  • Persekutuan      Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
  • Forum Mahasiswa      Ciputat (Formaci)
  • Jemaat Ahmadiyah Indonesia      (JAI)
  • Gerakan Ahmadiyah      Indonesia
  • Tim Pembela      Kebebasan Beragama
  • El Ai Em Ambon
  • Fatayat NU
  • Yayasan Ahimsa      (YA) Jakarta
  • Gedong Gandhi      Ashram (GGA) Bali
  • Koalisi Perempuan      Indonesia
  • Dinamika Edukasi      Dasar (DED) Yogya
  • Forum      Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
  • Forum Suara Hati      Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
  • SHEEP Yogyakarta Indonesia
  • Forum Lintas      Agama Jawa Timur Surabaya
  • Lembaga Kajian      Agama dan Sosial Surabaya
  • LSM Adriani Poso
  • PRKP Poso
  • Komunitas Gereja      Damai
  • Komunitas Gereja      Sukapura
  • GAKTANA
  • Wahana Kebangsaan
  • Yayasan Tifa
  • Komunitas      Penghayat
  • Forum Mahasiswa      Syariahse-Indonesia NTB
  • Relawan untuk      Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
  • Forum Komunikasi      Lintas Agama Gorontalo
  • Crisis Center SAG      Manado
  • LK3 Banjarmasin
  • Forum Dialog Antar      Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel      Makassar
  • Jaringan Antar      Iman se-Sulawesi
  • Forum Dialog      Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
  • PERCIK Salatiga
  • Sumatera Cultural      Institut Medan
  • Muslim Institut      Medan
  • PUSHAM UII Yogyakarta
  • Swabine Yasmine      Flores-Ende
  • Komunitas      Peradaban Aceh
  • Yayasan Jurnal      Perempuan
  • AJI Damai      Yogyakarta
  • Ashram Gandhi      Puri Bali
  • Gerakan Nurani      Ibu
  • Rumah Indonesia

Menurut
data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi,
kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi
kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat
insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak.
Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk
menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana
keras yang tersedia.

 

Namun
ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di
akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan
inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

 

Keseluruhan
organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata,
yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme
yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM,
Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

 

Namun
dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya.
Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti
demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar
HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian
menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan
sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa
menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

 

Bukan
kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang
merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional.
Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada
Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad
yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang
kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com),
dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah
mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan
orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

 

Mereka
ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti
kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd
sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan
menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti
di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

 

Jelas,
bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah.
Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya
pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

 

Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya.

Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang
sebenarnya menyadari ‘The Hidden Agenda’ di balik AKKBB, karena agenda
besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini,
sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan
hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan
pemahaman dan ilmu yang cukup.

BAJN ( Badan Anti Jaringan Islam Liberal Nasional)

June 28th, 2007 by fauzanrizki

Tulisan Bebas aja… :) silahkan klu ada yang mau Menanggapi …

Untuk mempelajari Islam yang sempurna dr A - Z, dan bukan islam Liberal ya baca buku-buku dibawah ini — Silahkan Download kitab2 yang terdapat dalam link dibawah ini : Perpustakaan Islam di Dunia Maya Terlengkap yang pernah saya Jumpai :)

http://www.almeshkat.com/books/index.php

—————————————————————
Assalamualaikum wr wb.

Aneh terkadang, sungguh aneh.. Orang islam tapi meragukan konsep keislaman, Orang islam tp merongrong sumbu-sumbu keislaman; Orang islam tp Bodoh soal islam; Orang islam tp mudah menghina Menjelek2an orang islam lain; Orang islam tp tidak mau melaksanakan Syariah Islam; Orang islam yang mengagung-agungkan akal daripada wahyu; Orang islam yang lebih bangga terhadap tulisan-tulisan orang barat non islam. Apa sih maunya… klu meragukan islam kenapa mesti bingung-bingung Keluar saja dr Islam, Beres !… jangan mengatas namakan islam kemudian merongrong dan menghancurkan sendi2 keislaman yang ada. Sungguh mereka itu bagaika VIRUS.. VIRUS yang sangat berbahaya.

Sangat2 geli sekali ketika membaca buku karangan Zuhairi Misrawi dkk. "dari Syariah ke Maqashid Syar’iyyah" sungguh saya katakan mereka adalah orang2 Bodoh dalam Syariah Islam.

Zuhairi Misrawi Lulusan AL AZHAR….. tp demi ALLAH Universitas Al AZhar khususnya Fakultas Syariah Al Azhar sedikitpun tidak mengajarkan seperti kaum2 JIL ucapkan. Jadi jangan dikaitkan mereka2 itu dengan Institusi pendidikannya. Jauh Panggang dr Api.

Mengapa mereka bisa begitu..? sebuah pertanyaan yang terkadang tak terelakan. Koq bisa ya mereka berfikiran seperti itu… padahal mereka tahu Qur’an dan Hadits. Singkat saja…

Pertama : Hermeneutika.. ya Hermeneutika…. sebuah metode panafsiran Bible, yang menanamkan Azaz Konteks bukan Teks, tidak ada kebenaran Muthlak dll…

Mari kita selami antara Bible dan Qur’an…
1. Bible itu dikarang oleh orang yang sama sekali tidak pernah ketemu dengan Nabi Isa. Sedangkan Qur’an.. itu wahyu yang ditulis pada Zaman nabi Muhammad. dalam istilah hadits Bible itu tergolong Hadits MURSAL (yang tidak menyambung sanadnya ke Rasul). Para ulama mengatakan Hadits Mursal itu tidak bisa dipakai kecuali ada syarat2 khusus. Jadi,Sah-sah saja klu Hermeneutika itu dipakai dalam metode penafsiran Bible krn itu td… orang yg mengarangnya tdk pernah ketemu nabi Isa. Bible itu dengan hadits Masyhur saja sudah kalah Derajatnya, apalagi dibandingkan dengan hadits Mutawattir lebih jauh lg drajatnya, apalagi dengan Al Qur’an lebih jauh lagi. Al Qur’an yang setiap kata-katanya Mutawattir… Semua sahabat2 Menyaksikannya, Menghapalnya…. & Menjaganya. Coba lihat Jutaan orang yang hapal QUR’AN sedangkan coba cari adakah org Kristen yg hapal BIBLE …?? dengan tanpa salah satu huruf Pun hatta Paulus pun.

ya gimana ga dikatakan Bodoh masa mereka menyamakan Al Qur’an dg Bible… hahaha ya jelas BODOH bin BLOON.

Kedua : Rujukan-Rujukan Bacaan mereka bukan rujukan karangan ulama-ulama islam yg Ikhlas… yang Betul2 hidup untuk memperjuangkan izzah islam tapi yang mereka suka baca ya buku2 karangan para Orientalis.. para intelek Bodoh yg sudah di Cap Kafir uleh Jumhur Ulama Islam. dg dipoles Filsafat & pki Bhs yg memukau… akhirnya mereka Tertipu dg itu.

Saya kira 2 hal itu td yg menjadi Faktor dominan sehingga mereka terjerumus dalam lembah Hitam lebih menghancurkan lagi dibanding Narkoba.
Yu kita rame2 bikin Gerakan….. namanya BAJN ( Badan Anti Jaringan Islam Liberal Nasional )

Ketiga :
Keempat: dst.. itu semua faktor pengikut dr yg 2 tadi …

Wallahu ‘Alam Bishawab…

Wassalam, :)
M. Hasbi…
Fak. Syariah Al Azhar mo tkt. 4 Insya Allah…

Manusia Rabbani

March 1st, 2007 by fauzanrizki


Oleh: Haris Ramlan

      Siapa
di antara kita yang tidak ingin menjadi manusia Rabbany? Siapa di antara
kita yang merasa ragu untuk dicintai dan diridhai oleh Dzat Yang Menciptakan jagat
raya ini? Adakah di antara kita yang merasa malu berada dalam ri’ayah Ar Rahman?

Menjadi
manusia rabbany merupakan impian setiap muslim. Karena sesuai dengan
artinya, manusia rabbany ialah manusia yang senantiasa terkait dengan
Allah SWT. Segala aktivitas kehidupannya selalu berporos pada nilai-nilai Ilahiyyah.
Ia senantiasa bersandar penuh kepada Allah, sehingga segala sesuatu yang ia
hadapi senantiasa dipandang dari sudut keimanan dan ketakwaan. Tidak ada unsur
kepentingan dunia semata dalam kamus kehidupannya. Tidak ada pengaruh ego
pribadi dalam setiap keperluannya.

Sosok
manusia rabbany memiliki ketenangan jiwa dan kekokohan kepribadian yang
sangat tinggi. Rasa gelisah, cemas dan takut sudah ia ganti dengan keoptimisan,
tawakkal dan ridha serta kesabaran. Lilitan masalah dalam kehidupan atau
tumpukan beban yang menggunung tidak pernah melemahkan semangatnya dalam
beribadah. Juga tidak menjadikannya mengasingkan diri dari keramaian dan
interaksi sosial. Ia tetap saja tegar seperti karang di lautan.

Keistiqamahan
menjadi cirinya yang khas. Ketika ia mendapat ujian dan cobaan, ia senantiasa
bermunajat kepada Allah. Malam-malamnya ia lewati dengan qiyamullail dan
isak tangis pengharapan. Dan ketika ia terlepas dari ujian pun, ia tetap
melakukan aktivitas-aktivitas ibadah dengan sempurna. Ia tetap lewati fase
kehidupan malamnya dengan rintihan dan tangisan.

Prinsip
dalam mengarungi kehidupan malamnya tidak pernah berubah. Seperti yang pernah
diwasiatkan oleh Asy Syahid Hasan Al Banna, "Detik-detik malam
sangatlah mahal, maka janganlah engkau murahkan dengan kelalaian".

Ada
banyak kisah dalam sejarah yang menceritakan manusia-manusia tangguh seperti
itu. Manusia-manusia rabbany yang hidup menghiasi dunia untuk menebarkan
teladan dan kebaikan. Semua sahabat Rasulullah SAW. memiliki karakteristik
seperti itu. Begitu juga dengan salafuna ash-shalih dan juga generasi
setelahnya yang senantiasa berada dalam barisan keimanan dan barisan dakwah,
mereka merupakan profil manusia-manusia rabbany.

Mereka
tidak pernah terputus. Datang silih berganti meneruskan tugas suci yang telah dirintis.
Menebarkan teladan dan kebaikan. Menjadi telaga kehidupan bagi masyarakat yang
haus pancaran keimanan. Keberadaan mereka dirindukan banyak orang. Ketiadaan
mereka berarti sebuah kehilangan.

Dan
tentu saja, kita semua pun sangat berharap untuk menjadi bagian dari mereka.
Kita sangat menginginkan menjadi sosok manusia-manusia rabbany,
manusia-manusia yang berada dalam cinta dan ridha-Nya. Manusia yang memiliki
kecenderungan-kecenderungan rabbaniyyah dalam setiap kehidupannya.
Meskipun terkadang aktivitas kita sebenarnya masih terlalu jauh untuk
mendapatkan anugerah seperti itu.

Atau
mungkin saja kita sudah berusaha, dan banyak aktivitas ibadah yang kita
lakukan, akan tetapi kita masih saja merasakan sesuatu yang hambar dalam ruh
dan jiwa kita. Kita masih belum bisa merasakan kelezatan iman dan kekentalan ruhiyyah.
Kita masih merasakan sesuatu yang kurang dalam diri ini. Semacam kekeringan
hati atau perasaan datar terhadap aktivitas ibadah yang kita lakukan.

Yang
kita perlukan di sini adalah pemberdayaan hati. Karena hati adalah kunci dari
segalanya. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. "Ingatlah
dalam jasad manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka akan baik
seluruh jasadnya. Dan jika ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasadnya. Itulah
hati."

Sosok
manusia rabbani memiliki kejernihan hati. Hati mereka tidak tertawan oleh
kehidupan dunia. Hati mereka tidak tergoda oleh gemerlap dunia. Hati mereka
tidak terkicuhkan oleh kesenangan nafsu yang menggelora. Ketika mereka berhasil
memberdayakan hati, maka aktivitas ibadah yang mereka lakukan betul-betul
menjadi supply energi keimanan bagi jiwa mereka. Ruhiyyah mereka
mengental dan hubungan mereka dengan Alah pun menjadi semakin menguat.

Semuanya
bermula dari hati. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
musnad
nya, Rasulullah SAW. Bersabda, "Demi Dzat yang diriku berada
di tanganNya, seseorang belum dikatakan berislam sebelum hatinya berserah
kepada Allah SWT".

Ada
hubungan yang sangat kuat antara hati dan fisik serta aktivitas kesehariannya.
Manusia rabbany bukan hanya orang yang senantiasa memenuhi
kewajiban-kewajibannya, melaksanakan ritual ibadah dan aktivitas-aktivitas
kebaikan lainnya. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, manusia rabbany
adalah manusia yang senantiasa menghayati ibadah-ibadah yang ia tunaikan. Ia
berusaha menjiwai setiap aktivitas kebaikan yang ia lakukan. Ia mampu merasakan
getaran keimanan ketika dan setelah selesai dari suatu amal shaleh. Seluruh
amalannya bersumber dari dua kekuatan: kekuatan ‘faham’ (kesadaran) dan
kekuatan ‘ikhlas’.

Perlu
latihan yang panjang (tarbiyah) untuk menuju ke arah sana. Perlu tadlhiyah
dan kesabaran untuk menggapai derajat rabbaniyyah seperti yang kita
harapkan. Dan perlu sebuah komunitas yang mendukung (suasana keislaman) yang
akan menjadi kontrol sosial dalam proses tersebut.

Dan
semuanya, tetap dibingkai dengan keoptimisan dan pengharapan yang tinggi kepada
Allah SWT. Seperti nasihat Nabi Yakub terhadap anak-anaknya, "Janganlah
kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhya yang berputus asa dari
rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir".
(Yusuf : 87)

Akhirnya,
penulis hanya bisa menutup tulisan ini dengan untaian sebuah doa; "Ya
Allah, Wahai Yang Membolak-balikan hati! Tetapkanlah hati kami dalam keta’atan
pada-Mu".Wallahu a’lam bishawab.

Konsultasi Agama (HARUS BACA)

March 1st, 2007 by fauzanrizki

Assalamu
‘Alaikum Wr. Wb.

Ust,
Ulyadi Lc, yang diberi amanah ilmu dan yang diangkat derajatnya oleh Allah ‘Azza
wa Jalla bi idznillah, Amiin
. Sekaligus yang ana hormati.

Sebelumnya, Ana adalah seorang Abdullah yang diselimuti akan
keragu-raguan. Adapun keragu-raguan itu, ketika ana jauh dari negaraku. Ana
merasakan keraguan yang begitu mendalam. Keraguan itu adalah sebulan sebelum
keberangkatan ana ke Mesir, ana telah ungkapkan rasa suka ana
kepada seorang muslimah yang menurut ana dan kakak ana, ia adalah
muslimah yang baik. Seminggu kemudian ana mendapatkan surat yang isinya,
ia (muslimah itu) telah memusyawarahkan dengan kedua orang tuanya dan kedua
orang tuanya merespon dengan baik (menyetujui hubungan ini menuju ke
pelaminan).

Tetapi setelah itu, ana keburu meninggalkan Indonesia, dan
belum menghitbah muslimah itu. Yang ana tanyakan, dzalimkah ana
dalam keadaan seperti ini? Dan bagaimna solusinya? Syukran jazilah atas
jawaban Ustadz.

Yang
rindu akan jawaban

Abdullah

 

Jawaban:

Akhil
karim
yang dimuliakan Allah SWT. Ana ucapkan terima
kasih atas kepercayaan dan do’a yang telah Akhi berikan. Sedikit ana
ingin mengklarifikasi bahwa ana belumlah bisa dikatakan orang berilmu. Ana
juga masih dalam tahap belajar seperti Akhi. Dan ana masih banyak
kekurangannya. Ya Allah jadikanlah hamba lebih baik dari apa yang mereka sangka
dan ampunilah hamba dari apa yang tidak mereka ketahui.

Mengenai
masalah Akhi, pertama sekali ana doakan semoga Allah
memudahkannya dan menghilangkan keragu-raguan yang ada dalam diri Akhi.

Sebagaimana
yang kita ketahui bersama, bahwa Islam adalah agama fitrah. Agama yang datang
sesuai dengan sunnah kauniyah yang Allah tetapkan di muka bumi. Salah
satu dari fitrah itu adalah ketertarikan seseorang kepada lawan jenisnya. Allah
SWT. berfirman yang artinya:

“Dihiaskan
kepada manusia berupa kecintaan syahwat kepada Wanita, anak, dan harta yang
berlimpah ruah” Q.S. Ali Imran: 14)

Islam datang bukanlah untuk mematikan fitrah. Akan tetapi Islam menyalurkannya
melalui cara-cara yang mulia dan mashlahat untuk manusia itu sendiri.
Untuk menyalurkan rasa ketertarikan pada lawan jenis misalnya, maka Islam
mensyariatkan nikah. Banyak mashlahat dan manfaat yang dapat diambil
melalui nikah. Di antaranya adalah menjaga keturunan yang jelas. Menumbuhkan
rasa tanggung jawab kedua pasangan terhadap keturunannya. Menumbuhkan rasa
kasih sayang dan kenyamanan antara kedua pasangan. Pembagian tugas dan
keteraturan dalam keluarga. Dan masih banyak manfaat yang lain yang tidak dapat
diraih tanpa menikah. Maka dari itu Allah mengutus para rasul dan menjadikan
bagi mereka isteri-isteri dan keturunan. Allah SWT berfirman:

"Dan
sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelum engkau dan Kami jadikan bagi
mereka isteri-isteri dan keturunan". (Q.S. Ar Ra’d: 38)

Yang Akhi
rasakan dalam diri Akhi tentulah berasal dari fitrah. Dan tentu itu
adalah suatu hal yang baik bila kita menyikapinya sesuai dengan tuntunan agama Islam
yang kita yakini. Semuanya kembali pada diri Akhi. Bila Akhi merasa
sudah siap secara mental dan materi untuk membina keluarga, maka segeralah
menghubungi orang tua Akhi dan meminta persetujuan mereka berdua
terhadap niat Akhi yang suci. Kalau orang tua Akhi sudah setuju
maka segeralah menghubungi keluarganya. Kemudian segera melakukan proses
sehingga tidak menimbulkan fitnah yang tidak baik. Namun bila Akhi belum
berkeinginan untuk membina keluarga pada saat sekarang, maka saran ana
hubungan Akhi dengan muslimahnya tidak bagus untuk dilanjutkan. Karena
itu akan menambah beban bagi Akhi dan baginya. Dan mungkin akan
mengganggu proses study Akhi di sini. Adapun ungkapan suka yang Akhi
sampaikan kepadanya belumlah menciptakan
hubungan apa-apa dalam pandangan Islam. Bila Akhi memilih yang pertama
maka melangkahlah dengan bismillah. Dan bila Akhi memilih yang
kedua maka bersabarlah dan yakinlah kepada Allah SWT. Kalau memang jodoh dia
tidak akan ke mana. Dan kalau dia bukan jodoh Akhi, insya Allah, Allah
akan ganti dengan yang lebih baik untuk diri Akhi. Ubai bin Kaab berkata
sebagai mana yang diriwayatkan oleh Imam Waki’ dalam AzZuhd :

"Tiadalah
dari seorang hamba yang meninggalkan sesuatu karena Allah melainkan Allah akan
menggatikannya dengan yang lebih baik tanpa dia kira".

TERBADAI (SASTRA)

March 1st, 2007 by fauzanrizki

Oleh : Rais Rahma Fathoni

Nama itu Magdi. 1 I’dadiah, usia 13 tahun.
Sudah 6 bulan, ayahnya, Sayyid, di-PHK dari sebuah PT. Sedang bundanya, hanyalah guru TK. 150 pound setiap bulannya.
Uang segitu mana cukup untuk menghela nafas. Belum si Ayah, pecandu rokok bak
asap kereta.

Akhir-akhir
ini ayah suka marah. Tanpa ada sebab yang jelas. Ayah juga suka
membesar-besarkan masalah. Tangan Magdi pernah disundut bara rokok, hanya
karena terlalu lama di kamar mandi. Memang kenapa sih kalau lama di kamar
mandi? Bukankah kamar mandi milik keluarga? Memang zaman sekarang ada pajak
kamar mandi?! Duh, ayah, lama-lama seperti orang depresi!

Belum
lagi kalau ayah sedang ribut dengan bunda, Magdi hanya bisa ngumpet di kolong
ranjang. Kadang ditampar, dipukul, atau dijambak. Pernah juga kerudung bunda
robek. Tak tega Magdi mendengar tangis getir bunda. Diam-diam, Magdi suka
melukis ayah di buku sekolah. Gambarnya mirip setan. Rambutnya gondrong, keluar
api dari mulutnya, ada tanduk dan sepasang taring gigi yang keluar. Magdi tahu
agama melarang ini. Tapi, puas rasanya bisa menggambar seperti itu.

*****

Blepak!! Seperti kilat menyambar di mata.

Magdi
mengaduh. Ayah mana peduli. Rasanya pegitu perih. Ditutupnya mata dengan
telapak tangan untuk sedikit mengurangi sakit. Ternyata darah! Mata Magdi
berdarah oleh pukulan ayah!

Langsung
Magdi pingsan tak sadar diri.

*****

Terpikir
akan dibawa ke rumah sakit. Ternyata hanya berbaring di balai reot, ruang tamu.
Ada bunda di sampingnya. Mata wanita itu sembab, tak banyak bicara. Namun getar
cintanya, sungguh dapat dirasa. Magdi hanya bisa menatap dengan satu mata.
Sebab mata yang berdarah ditutup perban. Kemana ayah? Magdi mencari. Iya, ayah.
Kemana dia? Memutar pandangan mencari sosoknya. Deg! Jantung Magdi
terdetak kencang. Dada membuncah. Rasa tak percaya, bercampur dendam.

Oh, ayah… Seperti tak terbetik rasa salah. Di sudut ruang, duduk santai
laksana raja bertahta. Mengisap rokok dalam-dalam.

Magdi
memenjam mata. Ada tangis di sudutnya. Dan perih di salah satu bolanya. Bunda
mengusap tangis dengan tangan yang berumur, namun masih lembut. Diraihnya
tangan keriput itu. "Ibu yang baik, izinkan aku pergi tinggalkan
rumah!"

Magdi
sadar, bunda laksana mendengar guntur. Petir yang menyambar dadanya. Setitik
demi setitik, tangis bunda pecah, dan menitik di wajah Magdi. Pundak tua itu
bergetar hebat menahan sesenggukan.

"Bagaimana,
Bunda?" tanya Magdi. Cukup perih.

"Anak
yang kucinta, Bunda tak memiliki pilihan. Apalagi engkau lelaki. Tahukah
Engkau? Tapi aku diguncang badai."

"Tenanglah,
Bunda." Terang Magdi menenangkan. "Aku akan baik-baik saja. Sebab di
jalanan sana, orang baik ada di mana-mana."

Krengkeeeet…. Suara pintu rumah. Ayah keluar. Entah ke mana. Aiiihhh, masihkah
ada nurani di dadanya. Gelap mata Magdi melihatnya. tak perlu banyak bicara,
langsung loncat dari balai. Diciumnya tangan bunda. Dengan pakaian yang
selembar ini, akan menapaki jalanan tanpa ujung!

"Ma’assalamah,
Bunda! Teriaknya sebelum menutup daun pintu. Dan terlihat tubuh bunda bergetar
hebat.

*****

Masih
jauh hari menuju terang. Remang-remang pekat malam. Mencari setitik terang pada
lampu neon peron stasiun. Menelusuri jejak panjang rel kereta. Terlalu jauh
terhempas kehidupan. Menghirup dalam nafas tanpa rasa, hanya memenuhi rongga,
lantas hilang begitu saja.

Seperti
ini ternyata rasa jalanan. Sudah satu minggu Magdi menyeret langkah tanpa arah.
Tak adakah yang tahu, akan ia yang belum makan dari kemarin pagi. Terpaksa
meneguk air-air masjid atau kran pinggir jalan. Magdi tahu tentang indahnya
jalan pulang. Tapi, ah, tak perlu dikenang lagi.

Kembali
matanya sukar mengatup. Lapar merayap hingga ubun-ubun. Ditariknya badan hilang
tenaga itu. Ke mana ia mencari orang baik di kebutaan malam seperti ini?
Nalarnya telah pingsan. Magdi melangkah, "mungkin masjid lag"i,
batinnya.

Terbelalak
Magdi sampai di masjid. Pintu tutup. Tak kuat lagi ia menopang tubuh, apalagi
melangkah. Dirobohkan badan pada pintu masjid yang rapat itu. Menyebut satu
harapan: Usturna ya Rabb…begitu pelan, setengah membisik.

*****

Terjengkang
Magdi saat pintu masjid di buka, jam setengah lima pagi. Subuh sebentar lagi
menyapa. Berarti, penuh sudah, sehari semalam tanpa makan. Mencari ia tempat
wudhu, lama-lama berada di sana. Minum, mengurangi lapar. Cuci muka, basahi
rambut, supaya makin segar.

Hingga
adzan menggema, ia masih di situ. Adzan Subuh yang syahdu, tak terasa hangat
menyelimuti kelopaknya. “Bunda…inti fien?” Kembali ia merajuk pada
wanita terindah dalam hidupnya. Kerinduan berpadu kemalangan. Dan matanya
berair-air.

Terdengar
bunyi sandal terseret, bergegas disapu air mata itu. Buru-burunya berwudhu.
Menghilangkan bekas kesedihan. Dan berharap pada Sang Maha: "Rabb
hamba lapar”. Air matanya masih menderai, bercampur basuhan wudhu. 

*****

“Pak,
tolonglah saya, izinkan saya tinggal barang sekejap. Saya tak ada tempat
tinggal.” Penjaga masjid yang diajak bicara diam saja. Bapak itu tak bergeming.
“Pak…”, kembali Magdi merengek, “Tolonglah.”

“Heh!
Bukankah sudah aku bilang mesjid ini harus ditutup, dan kamu, harus keluar!
Cepat, aku hendak tidur lagi!”, diseretnya Magdi. “Lepas!”, berontak Magdi.
“Aku bisa jalan sendiri. Tak perlu kau seret-seret seperti ini.”

Bllaammm!! Pintu masjid ditutup. Begitu menggelegar. Remuk pula prinsip Magdi. Dahulu
ia yakin, ‘orang baik ada di mana-mana’. Sedang sekarang, ia pun begitu yakin,
‘orang jahat juga ada di mana-mana’.

Aiih, ada orang juga di luar masjid. Di bawah terang lampu neon. Membaca
Qur’an, terdengar surah Kahfi. Surah yang sudah Magdi hafal. Lekat
dipandangnya orang itu, berkaca mata. Ajnabi! Ingin benar Magdi bercakap
dengan ajnabi.

“Ismak
eiy?”
Cuek saja ajnabi ini, terus tilawah. Memang susah
kadang memulai bicara dengan ajnabi. Diam pula Magdi di sampingnya. Dari
mana ia harus mulai kata perkenalan? Tanpa sadar Magdi menirukan tilawah si ajnabi.

Terbengong
si ajnabi. “Kamu hapal Kahfi?” matanya tak berkedip.

Magdi
mengangguk, dan meneruskan ayat yang baru saja dibaca ajnabi. 

“Ismak
eiy?”
sekarang ganti ajnabi yang bertanya. “Magdi, kamu siapa?”

“Abduh.”
Jawab si ajnabi.

“Abduh,
nama yang bagus. Mea-mea.” Magdi mengulurkan tangannya. Kening Abduh
berkerut. Tak paham akan ingin Magdi. “Mulai sekarang,” kata Magdi, “Kita
kawan.” Ooo, pahamlah Abduh dengan maksud Magdi. Abduh mengangguk.
Menyambut tangan Magdi dengan tangannya, “Sahabat!!”

“Inginkah
kau dengar keluhanku?” tanya Magdi. Abduh belum sempat menjawab, tapi Magdi
meneruskan katanya. “Saya belum makan sedari kemarin pagi.”

Pahit
dan perih sekali kerongkongan Abduh mendengar keterangan itu.

“Saya
pergi dari rumah. Ada masalah dengan ayah. Ayah kejam. Suka menyiksa. Saya tak
betah

tinggal di rumah. Maukah kau
menampungku sementara waktu?”

Mendetak
kencang jantung Abduh. “Jangan konyol, kau!!”

“Kenapa?!,”
suara Magdi setengah meninggi, “Bukankah kita sahabat?!”

“Kita
berbeda kebiasaan. Kita tidak sama.”

“Aku
bisa membantumu menyapu, mengepel, mencuci. Tanpa akan meminta bayaran. Cukup
aku bisa makan dan tidur saja. Aku juga tak perlu tempat tidur. Aku boleh tidur
di mana saja serelamu.”

“Magdi,
aku bisa memahamimu. Aku pun bisa menerimamu. Tapi teman-temanku…”

“Kenapa
dengan teman-temanmu, Abduh? Aku tak mungkin mencuri!!”

Panjang
nafas Abduh berhembus. Apa maksud ini ya Rabb…

“Abduh,
belum kau jawab, kenapa dengan teman-temanmu itu?”

“Kau
harus tahu, kita berbeda dalam banyak hal, Magdi.”

“Jadi
kau tidak menerimaku?! Begitu bukan maksudmu?!,” Magdi beranjak dari duduknya.
Memilih tempat lain. “Pergilah, dan tak ada kata kawan!”

“Magdi…
bukan itu.”

“Tak
perlu bicara lagi. Sebenarnya, kau mau menampungku atau tidak?!”

Abduh
tak menjawab. Dibukanya lagi mushaf. Diteruskan kembali tilawah surah Kahfi.
Sedangkan Magdi, melipat kakinya., menyandarkan dua sikunya pada lutut.
Dan lama menenggelamkan muka di sana.

Selesai
tilawah, “Magdi, jika kau hendak ikut aku, kau harus siap menghadapi perbedaan.
Itu saja

pesanku.”
Mata Magdi berbinar. Mengangguk.
 

*****

Dan
satu minggu setelah itu,

Bllaaarrr!!
Blarrrr!! Blarrrr!!
Suara pintu rumah digedor dengan kurang
sopannya. Abduh yang membuka pintu. Didapatinya dibalik daun pintu itu, dua
orang Mesir tinggi besar.

“Mana
Abduh?!” Suaranya menggelegar. Berputar pikiran Abduh. Kenapa mencari saya?
Ada kehawatiran memompa kencang detak jantungnya. Gagap Abduh berkata: “Say-yaa

sen-dii-ri.
A-da y-yang bi-sa di-bantu…?!” Seorang darinya mengeluarkan kartu tanda
pengenal. Polisi! Aiihh, apa pula ini?! "Kau, Abduh, tersangka
kasus penculikan! Lekas ikut kami ke kantor!!"

Keringat dingin Abduh
mendengarnya. Serasa langit robek-robek oleh suara itu
q

 

 

 

ZAINAB AL- GHAZALI (TOKOH)

March 1st, 2007 by fauzanrizki

Oleh : Andrean

 2 Januari 1917,
di wilayah Al Buhairah, lahirlah sesosok bayi perempuan yang kelak akan menjadi
ummul mujahidah terkemuka. Dari keluarga yang berpegang teguh pada Al Quran
dan As Sunah, beliau dinamakan Zainab Al Ghazali Al Zubaily. Ayahnya seorang
ulama Al Azhar yang berpengaruh. Sejak kecil ia sudah menjalani proses tarbiyah
rabbani
. Saat berumur sepuluh tahun, sang ayah berpulang ke rahmatullah.
Mengajarkannya untuk tetap tegar dan ridha pada setiap ketentuan Allah. Kemudian
beliau dibawa ke Kairo.

Di Kairo jiwanya bergelora untuk berperan aktif dalam
bidang kemasyarakatan. Sampai akhirnya beliau terlibat dalam organisasi wanita
liberal di bawah pimpinan Huda Syaarawi. Kembali Allah menguji kesabarannya dengan
penyakit kronis yang harus dideritanya. Pada saat itulah beliau tersadar dari
kesia-siaan apa yang telah dilakukannya. Beliau pun memohon kepada Allah atas keluasan
rahmatNya dan berjanji akan meninggalkan organisasi liberal tersebut. Rahmat
Allah pun meliputinya dan penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Beliau pun mulai
merintis sebuah organisasi wanita sebagai ungkapan rasa syukur dan pemenuhan
janjinya. Pada tahun 1937 organisasi itu berdiri yang mempunyai visi untuk
mendidik wanita muslim dan memberi bantuan kepada anggota keluarga muslim yang
membutuhkan. Pada tahun yang sama, beliau sering berdiskusi dengan Imam Ass
Syahid Hassan Al Banna. Kemudian organisasinya menjadi salah satu cabang
pergerakan Ikhwanul Muslimun. Kekuatan dan perkembangan organisasi muslimah
tersebut meningkat berkat usaha dan perjuangan beliau yang berkesinambungan.
Hal itu terlihat dengan banyaknya wanita Islam di Mesir yang bergabung
dengannya. Mereka ditaburi benih-benih keimanan dan perjuangan di dalam jiwa
mereka.

Di antara mereka yang dekat hubungan dengannya adalah dua
saudari Sayid Qutb yaitu Aminah Qutb dan Hamidah Qutb, Halidah Hasan Al Hudaiby,
Al Hayyah Sulaiman Al Zubair, Fatiraah Al Fath, Aminah Al Jauhaty dan
lain-lain. Ketegarannya membuat Presiden Gamal Abdul Naser memintanya agar
memimpin sayap wanita Partai Sosialis, akan tetapi beliau menolaknya. Keengganannya
menyebabkan Presiden mengeluarkan instruksi agar organisasi muslimah yang
dipimpinnya dibekukan dan segala penerbitannya dihentikan. Beliau lalu
ditangkap pada agustus 1965 dan dijebloskan ke penjara selama enam tahun dengan
berbagai siksaannya. Mari kita menghayati apa yang beliau ceritakan ketika
berada di penjara di dalam bukunya Ayyam Min Hayati. Pada agustus 1965
rumahnya digeledah oleh beberapa tentara tanpa izin. Saat beliau meminta surat
penggeledahan, mereka menjawab, "Surat tugas yang mana, hai Orang Gila,
kami sekarang dalam masa di mana kami bebas melakukan apa saja yang kami
kehendaki terhadap kalian.” Dan tanpa bukti mereka menyeret beliau keluar
rumah dan membawanya pergi. Tanpa persidangan dan pembelaan, beliau dijebloskan
ke penjara. Beliau tetap sabar dan mengharap pahala dari Allah atas ujian yang
diterimanya. Beliau dimasukan ke penjara no 24. Beliau menceritakan, ”Sebuah pintu
ruangan yang sangat gelap dibuka, lalu aku dimasukan ke dalamnya, aku lalu mengucakan
”Bissmillah Assalualaikum”, kemudian pintu itu ditutup kembali, lalu lampu
yang sangat terang dinyalakan dengan tiba tiba untuk menyiksa diriku, ruangan
itu dipenuhi oleh anjing-anjing yang lapar. Aku tidak mengetahui persis berapa
jumlahnya. Anjing-anjing itu langsung menyerangku dan menggigit sekujur tubuhku.
Kurasakan tusukan-tusukan taring anjing-anjing itu, sakit sekali. Kala kumencoba
membuka mata untuk melihat, maka dengan segera kupejamkan kembali karena
ketakutan yang sangat mencekam. Kemudian kuletakan kedua tanganku di bawah
kedua ketiakku sambil menyebut Asma Allah mulai dari, ”Ya Allah, Ya
Allah…” Satu persatu nama Allah kubaca, sementara anjing-anjing itu tiada
henti menggigitku. Aku berdoa kepada Allah dengan mengatakan, ”Ya Allah sibukkanlah
diriku dengan mengingatmu, wahai Tuhanku, wahai Dzat yang Maha Esa, wahai Dzat yang
menjadi tempat bergantung, bawalah aku dari alam kasar ini, sibukkanlah aku
agar tidak mengingat seluruh hal selainMu, sibukanlah aku dengan mengingatMu,
bawalah aku ke hadiratMu, berilah ketenangan yang sempurna dariMu, liputilah
aku dengan pakaian kecintaanMu, berikanlah rezki mati syahid di jalanMu,
karuniakanlah keteguhan sebagaimana keteguhan yang dimiliki oleh para ahli
tauhid, ya Allah”. Doa tersebut kuucapkan dengan lirih. Detik demi detik, menit
demi menit, jam demi jam pun berlalu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lalu aku
dikeluarkan dari kamar yang sangat pengap dan mencekam tersebut. Aku membayangkan
bahwa pakaian putih yang kukenakan telah
berlumuran darah, itulah yang kurasakan dan kubayangkan bahwa anjing-anjing itu
telah menggigitku, namun ternyata pakaianku tidak terkena sesuatu apapun dan
seolah-olah tiada satupun taring yang menembus tubuhku Maha Suci Engkau ya
Allah. Sesungguhnya Dia selalu bersamaku dan selalu mengawasiku. Ya Allah, apakah
aku ini layak mendapatkan karunia dan kemuliaan darimu? Ya Tuhanku bagimu
segala puji semua itu kuucapkan di dalam hati. Para sipir terperangah dan
terheran-heran ketika mengetahui bahwa anjing-anjing itu tidak merobek-robek
tubuhku Saya tidak mengetahui mengapa mereka amat terheran-heran menyaksikan
hal seperti itu. Bukankah Allah telah berfirman ”Hai orang-orang yang beriman
jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu" Muhammad: 7.