Oleh : Rais Rahma Fathoni
Nama itu Magdi. 1 I’dadiah, usia 13 tahun.
Sudah 6 bulan, ayahnya, Sayyid, di-PHK dari sebuah PT. Sedang bundanya, hanyalah guru TK. 150 pound setiap bulannya.
Uang segitu mana cukup untuk menghela nafas. Belum si Ayah, pecandu rokok bak
asap kereta.
Akhir-akhir
ini ayah suka marah. Tanpa ada sebab yang jelas. Ayah juga suka
membesar-besarkan masalah. Tangan Magdi pernah disundut bara rokok, hanya
karena terlalu lama di kamar mandi. Memang kenapa sih kalau lama di kamar
mandi? Bukankah kamar mandi milik keluarga? Memang zaman sekarang ada pajak
kamar mandi?! Duh, ayah, lama-lama seperti orang depresi!
Belum
lagi kalau ayah sedang ribut dengan bunda, Magdi hanya bisa ngumpet di kolong
ranjang. Kadang ditampar, dipukul, atau dijambak. Pernah juga kerudung bunda
robek. Tak tega Magdi mendengar tangis getir bunda. Diam-diam, Magdi suka
melukis ayah di buku sekolah. Gambarnya mirip setan. Rambutnya gondrong, keluar
api dari mulutnya, ada tanduk dan sepasang taring gigi yang keluar. Magdi tahu
agama melarang ini. Tapi, puas rasanya bisa menggambar seperti itu.
*****
Blepak!! Seperti kilat menyambar di mata.
Magdi
mengaduh. Ayah mana peduli. Rasanya pegitu perih. Ditutupnya mata dengan
telapak tangan untuk sedikit mengurangi sakit. Ternyata darah! Mata Magdi
berdarah oleh pukulan ayah!
Langsung
Magdi pingsan tak sadar diri.
*****
Terpikir
akan dibawa ke rumah sakit. Ternyata hanya berbaring di balai reot, ruang tamu.
Ada bunda di sampingnya. Mata wanita itu sembab, tak banyak bicara. Namun getar
cintanya, sungguh dapat dirasa. Magdi hanya bisa menatap dengan satu mata.
Sebab mata yang berdarah ditutup perban. Kemana ayah? Magdi mencari. Iya, ayah.
Kemana dia? Memutar pandangan mencari sosoknya. Deg! Jantung Magdi
terdetak kencang. Dada membuncah. Rasa tak percaya, bercampur dendam.
Oh, ayah… Seperti tak terbetik rasa salah. Di sudut ruang, duduk santai
laksana raja bertahta. Mengisap rokok dalam-dalam.
Magdi
memenjam mata. Ada tangis di sudutnya. Dan perih di salah satu bolanya. Bunda
mengusap tangis dengan tangan yang berumur, namun masih lembut. Diraihnya
tangan keriput itu. "Ibu yang baik, izinkan aku pergi tinggalkan
rumah!"
Magdi
sadar, bunda laksana mendengar guntur. Petir yang menyambar dadanya. Setitik
demi setitik, tangis bunda pecah, dan menitik di wajah Magdi. Pundak tua itu
bergetar hebat menahan sesenggukan.
"Bagaimana,
Bunda?" tanya Magdi. Cukup perih.
"Anak
yang kucinta, Bunda tak memiliki pilihan. Apalagi engkau lelaki. Tahukah
Engkau? Tapi aku diguncang badai."
"Tenanglah,
Bunda." Terang Magdi menenangkan. "Aku akan baik-baik saja. Sebab di
jalanan sana, orang baik ada di mana-mana."
Krengkeeeet…. Suara pintu rumah. Ayah keluar. Entah ke mana. Aiiihhh, masihkah
ada nurani di dadanya. Gelap mata Magdi melihatnya. tak perlu banyak bicara,
langsung loncat dari balai. Diciumnya tangan bunda. Dengan pakaian yang
selembar ini, akan menapaki jalanan tanpa ujung!
"Ma’assalamah,
Bunda! Teriaknya sebelum menutup daun pintu. Dan terlihat tubuh bunda bergetar
hebat.
*****
Masih
jauh hari menuju terang. Remang-remang pekat malam. Mencari setitik terang pada
lampu neon peron stasiun. Menelusuri jejak panjang rel kereta. Terlalu jauh
terhempas kehidupan. Menghirup dalam nafas tanpa rasa, hanya memenuhi rongga,
lantas hilang begitu saja.
Seperti
ini ternyata rasa jalanan. Sudah satu minggu Magdi menyeret langkah tanpa arah.
Tak adakah yang tahu, akan ia yang belum makan dari kemarin pagi. Terpaksa
meneguk air-air masjid atau kran pinggir jalan. Magdi tahu tentang indahnya
jalan pulang. Tapi, ah, tak perlu dikenang lagi.
Kembali
matanya sukar mengatup. Lapar merayap hingga ubun-ubun. Ditariknya badan hilang
tenaga itu. Ke mana ia mencari orang baik di kebutaan malam seperti ini?
Nalarnya telah pingsan. Magdi melangkah, "mungkin masjid lag"i,
batinnya.
Terbelalak
Magdi sampai di masjid. Pintu tutup. Tak kuat lagi ia menopang tubuh, apalagi
melangkah. Dirobohkan badan pada pintu masjid yang rapat itu. Menyebut satu
harapan: Usturna ya Rabb…begitu pelan, setengah membisik.
*****
Terjengkang
Magdi saat pintu masjid di buka, jam setengah lima pagi. Subuh sebentar lagi
menyapa. Berarti, penuh sudah, sehari semalam tanpa makan. Mencari ia tempat
wudhu, lama-lama berada di sana. Minum, mengurangi lapar. Cuci muka, basahi
rambut, supaya makin segar.
Hingga
adzan menggema, ia masih di situ. Adzan Subuh yang syahdu, tak terasa hangat
menyelimuti kelopaknya. “Bunda…inti fien?” Kembali ia merajuk pada
wanita terindah dalam hidupnya. Kerinduan berpadu kemalangan. Dan matanya
berair-air.
Terdengar
bunyi sandal terseret, bergegas disapu air mata itu. Buru-burunya berwudhu.
Menghilangkan bekas kesedihan. Dan berharap pada Sang Maha: "Rabb…
hamba lapar”. Air matanya masih menderai, bercampur basuhan wudhu.
*****
“Pak,
tolonglah saya, izinkan saya tinggal barang sekejap. Saya tak ada tempat
tinggal.” Penjaga masjid yang diajak bicara diam saja. Bapak itu tak bergeming.
“Pak…”, kembali Magdi merengek, “Tolonglah.”
“Heh!
Bukankah sudah aku bilang mesjid ini harus ditutup, dan kamu, harus keluar!
Cepat, aku hendak tidur lagi!”, diseretnya Magdi. “Lepas!”, berontak Magdi.
“Aku bisa jalan sendiri. Tak perlu kau seret-seret seperti ini.”
Bllaammm!! Pintu masjid ditutup. Begitu menggelegar. Remuk pula prinsip Magdi. Dahulu
ia yakin, ‘orang baik ada di mana-mana’. Sedang sekarang, ia pun begitu yakin,
‘orang jahat juga ada di mana-mana’.
Aiih, ada orang juga di luar masjid. Di bawah terang lampu neon. Membaca
Qur’an, terdengar surah Kahfi. Surah yang sudah Magdi hafal. Lekat
dipandangnya orang itu, berkaca mata. Ajnabi! Ingin benar Magdi bercakap
dengan ajnabi.
“Ismak
eiy?” Cuek saja ajnabi ini, terus tilawah. Memang susah
kadang memulai bicara dengan ajnabi. Diam pula Magdi di sampingnya. Dari
mana ia harus mulai kata perkenalan? Tanpa sadar Magdi menirukan tilawah si ajnabi.
Terbengong
si ajnabi. “Kamu hapal Kahfi?” matanya tak berkedip.
Magdi
mengangguk, dan meneruskan ayat yang baru saja dibaca ajnabi.
“Ismak
eiy?” sekarang ganti ajnabi yang bertanya. “Magdi, kamu siapa?”
“Abduh.”
Jawab si ajnabi.
“Abduh,
nama yang bagus. Mea-mea.” Magdi mengulurkan tangannya. Kening Abduh
berkerut. Tak paham akan ingin Magdi. “Mulai sekarang,” kata Magdi, “Kita
kawan.” Ooo, pahamlah Abduh dengan maksud Magdi. Abduh mengangguk.
Menyambut tangan Magdi dengan tangannya, “Sahabat!!”
“Inginkah
kau dengar keluhanku?” tanya Magdi. Abduh belum sempat menjawab, tapi Magdi
meneruskan katanya. “Saya belum makan sedari kemarin pagi.”
Pahit
dan perih sekali kerongkongan Abduh mendengar keterangan itu.
“Saya
pergi dari rumah. Ada masalah dengan ayah. Ayah kejam. Suka menyiksa. Saya tak
betah
tinggal di rumah. Maukah kau
menampungku sementara waktu?”
Mendetak
kencang jantung Abduh. “Jangan konyol, kau!!”
“Kenapa?!,”
suara Magdi setengah meninggi, “Bukankah kita sahabat?!”
“Kita
berbeda kebiasaan. Kita tidak sama.”
“Aku
bisa membantumu menyapu, mengepel, mencuci. Tanpa akan meminta bayaran. Cukup
aku bisa makan dan tidur saja. Aku juga tak perlu tempat tidur. Aku boleh tidur
di mana saja serelamu.”
“Magdi,
aku bisa memahamimu. Aku pun bisa menerimamu. Tapi teman-temanku…”
“Kenapa
dengan teman-temanmu, Abduh? Aku tak mungkin mencuri!!”
Panjang
nafas Abduh berhembus. Apa maksud ini ya Rabb…
“Abduh,
belum kau jawab, kenapa dengan teman-temanmu itu?”
“Kau
harus tahu, kita berbeda dalam banyak hal, Magdi.”
“Jadi
kau tidak menerimaku?! Begitu bukan maksudmu?!,” Magdi beranjak dari duduknya.
Memilih tempat lain. “Pergilah, dan tak ada kata kawan!”
“Magdi…
bukan itu.”
“Tak
perlu bicara lagi. Sebenarnya, kau mau menampungku atau tidak?!”
Abduh
tak menjawab. Dibukanya lagi mushaf. Diteruskan kembali tilawah surah Kahfi.
Sedangkan Magdi, melipat kakinya., menyandarkan dua sikunya pada lutut.
Dan lama menenggelamkan muka di sana.
Selesai
tilawah, “Magdi, jika kau hendak ikut aku, kau harus siap menghadapi perbedaan.
Itu saja
pesanku.”
Mata Magdi berbinar. Mengangguk.
*****
Dan
satu minggu setelah itu,
Bllaaarrr!!
Blarrrr!! Blarrrr!! Suara pintu rumah digedor dengan kurang
sopannya. Abduh yang membuka pintu. Didapatinya dibalik daun pintu itu, dua
orang Mesir tinggi besar.
“Mana
Abduh?!” Suaranya menggelegar. Berputar pikiran Abduh. Kenapa mencari saya?
Ada kehawatiran memompa kencang detak jantungnya. Gagap Abduh berkata: “Say-yaa
sen-dii-ri.
A-da y-yang bi-sa di-bantu…?!” Seorang darinya mengeluarkan kartu tanda
pengenal. Polisi! Aiihh, apa pula ini?! "Kau, Abduh, tersangka
kasus penculikan! Lekas ikut kami ke kantor!!"
Keringat dingin Abduh
mendengarnya. Serasa langit robek-robek oleh suara itu q